Pemko Solok Bahas Pengembangan Wisata Kawasan Payo

Pemko Solok Bahas Pengembangan Wisata Kawasan Payo
Afni Widia, Pegawai Dinas Lingkungan Hidup Kota Solok saat mengunjungi pembibitan dan pengembangan bunga krisan di Daerah Agrowisata, Kawasan Payo, Kelurahan Tanah Garam, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok.

Pemko Solok Bahas Pengembangan Wisata di Payo
* Visit Kota Solok 2020

SOLOK (www.patronnews.co.id)
Untuk menunjukkan komitmen dan keseriusannya dalam sektor pariwisata, Pemko Solok menggelar pertemuan pengembangan Wisata Payo di Masjid Nurul Ulya RW VI, Payo, Kota Solok, hari ini (6/7). Kawasan Payo merupakan salah satu lokasi wisata andalan di Kota Solok, selain Taman Wisata Pulau Belibis. Kawasan Payo memiliki ketinggian 700 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini akan sulap menjadi destinasi wisata andalan Kota Solok. Dari sini nantinya  wisatawan akan dapat menikmati keindahan Danau Singkarak dan hamparan bunga krisan sambil menikmati nikmatnya kopi Payo.

“Saat ini, Pemko Solok di samping membina petani berbudidaya bunga krisan, juga membina petani kopi. Pemko membantu masyarakat denagan teknik budidaya dan pemberian bibit kopi arabica secara gratis. Dipilihnya kopi arabica, karena 20 atau 30 tahun lalu, Kota Solok sempat terkenal dengan kopinya. Kopi tersebut adalah kopi arabica Payo,” ujar Walikota Solok Zul Elfian.

Selain sentra agrowisata kopi, Kawasan Payo yang berada di Kelurahan Tanah Garam juga terkenal dengan sentra budi daya bunga krisan. Saat ini, petani bunga krisan sudah mulai menikmati hasil. Dengan modal bibit Rp 500 per batang, petani bisa menjual bunga krisan Rp 1.000 per tangkai. Di samping harganya cukup mengiurkan, permintaaan terhadap bunga krisan ini juga cukup tinggi.

Selain kawasan wisata yang dikembangkan oleh Pemko Solok, sejumlah pihak swasta juga ikut mengembangkan sektor pariwisata bersifat bussines oriented. Menjelang lebaran lalu, masyarakat Kota Solok dan daerah sekitarnya memiliki alternatif kunjungan wisata. Sebuah sarana wisata di-launching di Kota Solok. Yakni Solok Water Park yang bertempat di Kawasan Gurun Bagan, Kelurahan VI Suku, Kecamatan Lubuk Sikarah Kota Solok. Mengetahui adanya alternatif penarik wisatawan lokal tersebut, Walikota Solok Zul Elfian, Ketua DPRD Yutris Can, Ketua KONI Kota Solok Andri Marant dan seluruh unsur Forkopimda Kota Solok menghadiri grand launching tersebut. Menurut Zul Elfian, keberadaan tempat wisata ini akan meningkatkan kunjungan ke Kota Solok, terutama saat lebaran nanti.

“Kita bersyukur dan mengapresiasi kehadiran Solok Water Park ini. Kita berharap, kehadiran Solok Water Park ini dapat menjadi alternatif wisata keluarga bagi masyarakat Kota Solok dan masyarakat Sumbar. Serta mendukung Visit Kota Solok 2020 menuju Solok Kota Beras Serambi Madinah The Heart of West Sumatra,” ujarnya.

Zul Elfian juga menyatakan kehadiran Solok Water Park adalah pertanda mulai tumbuhnya sektor pariwisata di Kota Solok. Zul Elfian juga mengimbau seluruh OPD terkait agar berusaha memacu pertumbuhan bidang lainnya seperti perhotelan dan bidang-bidang lainnya. Sehingga dapat menunjang perkembangan Solok Water Park ini ke depan.

Sementara itu, Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kesejahteraan Rakyat (Ekbang Kesra) Pemko Solok, Jefrizal, menyatakan sangat gembira dengan perkembangan kawasan wisata Payo. Terutama dengan maraknya bunga krisan di kawasan Payo ini. Menurut pria yang sebelumnya Kepala Dinas Pertanian Kota Solok, yang memulai program penanaman dan pembudidayaan bunga krisan di Kota Solok ini, aspek ekonomi dan pengembangan sentra wisata di daerah Payo ini melalui bunga krisan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Daerah Payo merupakan daerah yang memiliki potensi besar untuk bunga krisan ini. Daerah ini awalnya ditujukan untuk daerah agrowisata. Tentu, potensi alam yang indah itu, harus didukung oleh potensi lain. Seperti bunga krisan dan kopi arabica Payo. Kita optimistis, dengan konsep agrowisata ini, daerah Payo akan berkembang pesat,” ujarnya.

Sebelumnya, momentum lebaran menjadi pembuktian pembenahan dunia pariwisata Kota Solok harus dievaluasi. Sebagai salah satu Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang sangat besar menyedot APBD Kota Solok, Dinas Pariwisata Kota Solok masih belum memberikan kontribusi positif. Hal itu terlihat dari jumlah kunjungan ke objek-objek wisata di Kota Solok, yang sangat sepi pengunjung. Terutama objek-objek yang dikelola Pemko Solok, seperti Pulau Belibis, Puncak Payo dan Taman Kota Solok. Hal itu berbeda 180 derajat dengan objek-objek wisata yang dikelola oleh pihak swasta. Seperti Rumah Pohon Laing Park dan Solok Water Park.

Pantauan Metrans di objek-objek wisata yang dikelola Dinas Pariwisata Kota Solok, terlihat sangat sepi. Taman Wisata Pulau Belibis yang merupakan salah satu objek wisata andalan Kota Solok tak menarik minat pengunjung. Pengunjung hanyalah wisatawan lokal. Jumlah pengunjung hanya menembus kisaran 40-an orang. Itupun hanyalah kaum remaja yang datang ke lokasi secara berpasangan dan berkelompok menggunakan sepeda motor. Mereka terpencar secara berpasangan di pojok-pojok yang tak begitu terlihat pengunjung lainnya. Sementara kunjungan dalam bentuk rombongan keluarga nyaris tidak terlihat. Sejumlah mobil yang berisi keluarga hanya sekadar mampir untuk menikmati pemandangan Pulau Belibis yang melegenda. Tidak lama, mereka pun pergi setelah berfoto-foto.

Pulau belibis merupakan salah-satu obyek wisata unggulan Kota Solok dengan ikon spesifikya yakni hamparan Telaga Belibis. Alam yang sejuk, hijau, rindangnya pohon-pohon sempat membuat pariwisata ini melegenda. Bahkan diabadikan dengan sebuah lagu berjudul “Pulau Belibis”. Untuk masuk ke dalamnya dapat diakses dari dua pintu masuk, yakni dari arah Ampang Kualo dan Taman Pramuka. Bahkan untuk menggaet minat wisatawan juga disediakan beberapa unit kereta air sewaan di Telaga Belibis, dengan tarif Rp 10 ribu per trip.

Pegiat Wisata Kota Solok, Devi Syamputra, menilai lesunya angka kunjungan wisata di Kota Solok, khususnya Pulau Belibis, lebih disebabkan karena Pemko Solok minim terobosan terhadap objek rekreasi kebanggaan Kota Solok tersebut. Hal ini terutama perbaikan secara fisik. “Perbaikan sarana dan prasarana jauh lebih utama. Dibandingkan dengan kinerja Dinas Pariwisata yang sekadar menggelar program-program kegiatan. Karena ujung-ujungnya adalah proyek untuk mencari keuntungan,” ujarnya.

Devi menyebutkan Pemko Solok melalui Dinas Pariwisata perlu mencontoh objek-objek wisata yang dikelola pihak swasta di Solok. Menurutnya, objek-objek tersebut memberikan sesuatu yang khas dan memberikan kenyamanan kepada pengunjung. Hal itu menurutnya, membuat objek-objek wisata itu penuh sesak oleh pengunjung. Tidak hanya di masa lebaran, tapi setiap hari.

“Kalau hal itu tidak diseriusi, bicara PAD (pendapatan asli daerah) dari pariwisata adalah hal yang basi dan sekadar omongan tak berisi,” tegasnya.

Sebelumnya, Walikota Solok Zul Elfian sempat mengemukakan rencana pengembangan sektor pariwisata Kota Solok. Yaitu upaya revitalisasi Pulau Belibis yang akan dimulai tahun depan, dengan pembenahan sektor fisik.

“Pulau Belibis rencananya akan dibangun dengan konsep berbasis wisata air,” ungkapnya. (rzl)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply