Singkarak, Wisata Andalan Sebatas Angan

Singkarak, Wisata Andalan Sebatas Angan
RAMAI: Suasana ramai di Dermaga Singkarak saat lebaran lalu.

* Setengah hari di Danau Singkarak
Objek Wisata Andalan, Hanya Sebatas Angan

Di setiap lebaran, Danau Singkarak senantiasa ramai. Khusus untuk Kabupaten Solok, terdapat setidaknya empat titik kunjungan utama. Yaitu Dermaga Singkarak, Tepian Indah Permai, Tepian Tikalak dan Tepian Batu Taba. Namun hal itu sama sekali hilang saat tidak ada lebaran. Dermaga Singkarak yang dulu selalu ramai setiap minggu, kini justru tak terawat.

Laporan RIJAL ISLAMY — Singkarak

Minggu pagi (6/8) di Dermaga Singkarak terasa asing. Para pengunjung dan pedagang tetap pada aktivitas baku mereka setiap hari Minggu. Kalau melihat Minggu pagi di dermaga itu, kita patut bertanya. Inikah obyek wisata andalan Kabupaten Solok?. Para pengunjung dan pedagang pun seperti tidak tahu, inilah “bungo galeh” yang akan dijual ke masyarakat Sumbar dan wisata regional, nasional, atau pun internasional. Pengunjung, hanya sekadar tahu. Inilah salah satu ajang rekreasi di Kabupaten Solok.

“Kita selalu diwanti-wanti oleh orang di Dinas Pariwisata Kabupaten Solok. Bahwa ini adalah objek wisata andalan Kabupaten Solok. Namun, kenyataannya bisa dilihat sendiri. Tidak ada pembenahan yang signifikan. Lalu tidak ada upaya berbagai stakeholder mendukung pengembangan objek wisata ini,” ujar salah seorang pedagang yang namanya enggan diekspos.

Selama ini, kawasan dermaga Singkarak terus meninggalkan keluhan pengunjung. Keluhan utama hanya dua yaitu persoalan kerapian objek wisata dan tidak adanya oleh-oleh atau cenderamata yang bisa dibawa pulang pengunjung.

“Lokasi objek wisata ini kurang rapi. Terkesan tidak serius digarap oleh Pemkab Solok. Bahkan, kami lebih percaya untuk memarkirkan mobil di pinggir jalan daripada di dalam kawasan. Padahal kendaraan banyak. Ini rawan tergores karena tersenggol mobil lain,” ujar Bahrul (37), pengunjung dari Kota Padang.

Di Dermaga Singkarak, terjadi perputaran ekonomi kerayakyatan sekitar satu miliaran pertahun. Indikator itu diambil dengan cara setiap pengunjung membelanjakan uangnya di sekitar kawasan wisata itu rata-rata Rp20 ribu per orang. Dari perputaran ekonomi sebesar itu, sebagiannya berada di sektor belanja makanan dan tiket masuk.

Perputaran ekonomi itu, tidak semuanya menjadi pemasukan daerah. Umumnya lebih banyak masuk ke masyarakat akar rumput dan nagari. Hal itu sesuai dengan program pemerintah Kabupaten solok dengan empat pilar pemmbangunannya. Salah satu di antara program tersebut di bidang ekonomi kerakyatan.

DIMINATI: Minggu pagi di Dermaga Singkarak, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok.

Sementara itu, di sekitar Danau yang menjadi ikon Kabupaten Solok tersebut, pengunjung wisata selain menghabiskan uangnya untuk menikmati liburan dengan suguhan perahu danau dan membeli pengganan ikan bilih untuk dibawa pulang, ternyata tidak ada cendera mata lain yang bisa dijadikan sebagai daya tarik pengunjung untuk kembali datang ke Danau Singkarak. Padahal di sekitar dermaga danau itu terdapat kios-kios dan kedai kecil. Namun pengelola kios itu lebih tertarik menawarkan menu makanan untuk pelepas rasa lapar saja. Masih di dermaga juga hiburan pun hanya hiburan karakyatan. Hiburan itu lebih menarik perhatian masyarakat setempat ketimbang pengunjung dari luar.

“Mestinya di sekitar lokasi wisata itu, ada komoditi lain yang dapat diandalkan sebagai ikon daerah wisata. Jika hanya mengandalkan pada ikan bilih, maka sangat memiriskan. Sebab, kini populasi salah satu ikan terlangka di dunia itu terus berkurang, akibat peracunan yang dilakukan oknum masyarakat yang tidak bertanggungjawab,” ujar Bahrul.

Pengunjung yang datang ke dermaga hanya dihibur dengan tanah lapang yang cukup luas. Di tengah-tengahnya terdapat satu buah laga-laga atau gedung untuk pertunjukan. Tempat tersebut digunakan pengunjung untuk berteduh karena guyuran hujan.

Keramaian di danau Singkarak hanya terlihat pada hari-hari tertentu saja, seperti liburan sekolah, liburan akhir pekan dan beberapa liburan lainnya. Umumnya pengunjung waktu itu didominasi para anak-anak dan ABG (anak baru gadang) yang asyik bergelak tawa sesamanya. Umumnya para pengunjung itu hanya menikmati pemandangan sekitar danau sembari duduk di atas bangku dan tenda payung beton yang terdapat di pinggir danau. Bagi pengunjung yang baru sekali datang ke tempat itu lebih memilih untuk menikmati perahu kayuh untuk berkeliling di danau. Dan, ada pula yang mandi-mandi di pinggir danau.

Zul, 50, salah seorang warga yang ditemui koran ini mengatakan, hanya pemandangan yang terdapat di sekitar kawasan Danau Singkarak. Selain itu kedai-kedai kecil yang menjual jajanan untuk mengisi perut. Menunya pun tidak terlalu khas. Paling-paling mie rebus. “Yah, beginilah keadaannya Danau Singkarak, dek,” ujar Zul yang juga warga setempat.

Bahkan Metrans mencoba mencari-cari kedai, toko atau kios yang memanjang souvenir untuk dibawa oleh-oleh pulang. Sayang, harapan itu tidak ada. Hampir tidak ada toko yang menjual pernak-pernik sebagai bukti kedatangan pengunjung telah datang ke daerah itu.

Diakuinya, Danau Singkarak begitu ramai setiap hari, seperti halnya di tempat-tempat wisata kawasan lain. “Biasanya pengunjung datang pagi hari dan pulang di sorenya. Bila terlalu ramai, mereka lebih sering hanya bertahan hingga siang,”lanjut Zul.

Dikatakannya lagi, untuk memajukan Danau Singkarak seperti halnya objek wisata danau seperti halnya di provinsi lain mesti ada keterpaduan seluruh pihak. Campur tangan pihak ketiga pun tidak salah. Asalkan dapat menggairahkan Danau Singkarak seperti biasanya. (***)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply