Kisah Deri Rajo Bujang Memanusiakan Anak Jalanan dan Menekan Kriminalitas di Kota Solok

Kisah Deri Rajo Bujang Memanusiakan Anak Jalanan dan Menekan Kriminalitas di Kota Solok
Makan bareng bersama Pak Danru dan anak jalanan di Taman Syech Kukut Kota Solok.

Tangan Dingin Junairi Nursali (Deri Dt Rajo Bujang) Menekan Kriminalitas di Taman Syech Kukut Kota Solok

Ketulusan Memanusiakan Anak Jalanan

Anak jalanan (Anjal) dianggap sampah masyarakat. Produk gagal dari keluarga yang rusak. Mereka adalah bibit pelaku kriminalitas. Namun, di tangan Junairi Nursali, Anjal diubah menjadi tenaga produktif. Angka kriminalitas di Kota Solok berhasil ditekan dan membantu tugas polisi. Bagaimana ceritanya?

Laporan RIJAL ISLAMY, Solok

Senja baru saja menjelang. Lampu-lampu di Taman Syech Kukut Kota Solok, mulai benderang. Sinarnya berpadu dengan lampu-lampu ber-watt besar dari kompleks Pasaraya Solok. Plang merek Taman Syech Kukut yang berisi lampu berwarna hijau, kuning dan merah, menambah semarak suasana di senja itu. Pemandangan itu telah menjadi keseharian di taman yang telah menjadi ikon Kota Solok tersebut. Kondisi yang berbeda jauh dengan beberapa tahun sebelumnya. Saat lokasi yang akrab disebut Taman Kota itu menjadi tempat yang cukup membuat risih pengunjung.

Deri Rajo Bujang bersama anak jalanan di depan plang merek Taman Syech Kukut Kota Solok.

Senja terus merayap. Tepat di depan plang merek Taman Syech Kukut, di tepi jalan, barisan sepeda motor parkir dengan teratur. Puluhan anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua seakan silih berganti menikmati gemerlapnya suasana. Sejumlah odong-odong dan wahana permainan anak berwarna-warni lainnya, membuat senja makin meriah. Remaja dan dewasa memilih berfoto, bersantai dan menikmati makanan di warung yang tersebar di berbagai tempat. Pengunjung yang ber-selfie ria di ikon baru Kota Solok tersebut semakin ramai.

Sejumlah petugas parkir sibuk mengeluarkan dan memasukkan sepeda motor. Setiap uang receh yang mereka dapat, lalu disetor ke sebuah tempat duduk, tak jauh dari ujung kanan plang merek Taman Kota. Di sana, duduk seorang pria berpakaian necis, layaknya eksekutif muda, dengan potongan rambut yang rapi. Dia lah Junairi Nursali, yang lebih akrab disapa Deri Datuk Rajo Bujang. Pengelola areal parkir, sekaligus kakak angkat dan bapak angkat para anak jalanan di kawasan Taman Kota Solok.

Bersama Dedi Batubara, personel Polres Solok Kota di Taman Syech Kukut Kota Solok.

Masuk ke Taman Kota Solok bukan sesuatu yang baru baginya. Ditinggal ayah sejak kelas 1 SMP, sedari anak-anak, Deri sudah merasakan kerasnya hidup menjadi pedagang asongan di Pasaraya Solok. Masa kecilnya dihabiskan menjadi penjual kantong kresek, sandal jepit dan barang-barang kelontong eceran. Hidupnya berubah, saat beranjak dewasa menjadi pengelola becak motor (betor) dan berlanjut membuka warung di Rumah Sakit Umum (RSU) Solok.

Perjalanan hidup Deri Dt Rajo Bujang kembali berubah saat dirinya memenangkan tender pengelolaan parkir di depan Taman Syech Kukut. Di awal, pria kelahiran Solok, 6 Juni 1979 itu, mendapati kondisi Taman Kota yang semrawut. Terutama banyaknya anak jalanan berkeluyuran di seputaran taman. Parahnya, di antara Anjal tersebut juga banyak pengisap ganja, pengisap lem, pencopet, pengutil dan pencuri. Kenyataan itu membuatnya miris.

“Awal tahun 2017, saya mendapati kondisi yang serba kacau. Seminggu awal, saya mempelajari keadaan, latar belakang, dan lalu melakukan pendekatan. Ternyata, kebanyakan anak-anak tersebut adalah korban dari konflik orang tuanya. Terutama perceraian dan tidak adanya perhatian dari keluarga lain. Itulah yang kita tampung di sini,” ungkapnya.

Deri Rajo Bujang (pegang gitar), bersama anak-anak jalanan di Taman Syech Kukut Kota Solok.

Pendekatan dan penyelamatan anak jalanan yang dilakukan Deri, membuahkan konsekuensi. Deri harus mencarikan solusi. Ternyata, inti solusi tersebut adalah mencarikan pekerjaan.

“Solusi hanya akan didapatkan dari mendengarkan masalah. Niat menolong mereka datang dari mendengarkan kisah hidup mereka yang tuturkan secara jujur. Mereka rata-rata korban perceraian dan terlunta-lunta. Maka solusinya adalah mencarikan pekerjaan dan menanamkan rasa,” ujarnya.

Saat ini, Deri Rajo Bujang telah membina 58 orang anak jalanan. Beberapa orang di antaranya adalah perempuan. Mereka justru berada dalam usia produktif, yakni berumur antara 16 tahun hingga 30 tahunan. Rata-rata, mereka dicarikan pekerjaan seperti pelayan toko, kerja di konstruksi, dan membantu di parkiran. Tak sedikit pula yang telah diarahkan merantau dan berhasil. Alumni SD Inpres Nan Balimo, SMPN 2 Solok, SMAN 2, SMA PGRI Solok, dan SMAN 1 Solok tersebut, juga menampung anak-anak jalanan dari luar daerah. Seperti dari Medan dan Riau.

Keakraban Deri Rajo Bujang dengan anak jalanan.

Buah dari pembinaan tersebut, akhirnya terbukti pada lebaran 2018 kemarin. Yakni turun drastisnya angka kriminalitas di Pasaraya Solok. Tak lagi ada kasus pencopetan, perampokan dan pemerasan terhadap perantau yang mudik. Suami dari Weni Yuferita tersebut memiliki kiat jitu dalam “mendidik” Anjal, yakni dengan pendekatan humanis. Tak sekalipun kata-kata kasar keluar dari mulutnya. Jika marah kepada “anak binaannya”, Deri lebih memilih diam. Namun, diamnya Deri sudah jadi sinyal yang sudah dipahami seluruh Anjal di Taman Kota Solok. Maka secara bersama-sama, mereka akan memperbaiki sikap dan membujuk Deri untuk “memaafkan” mereka.

“Mereka kita berikan pemahaman untuk selalu menjaga keamanan, kenyamanan dan ketertiban. Sebab, jika lokasi terjaga, lokasi menjadi ramai dan pemasukan meningkat. Kalau saya marah, saya memilih diam. Tapi mereka sudah tahu, bahwa ada yang salah. Anak jalanan itu, dibentuk dengan cara yang keras, maka kekerasan fisik dan kata-kata kasar tidak mempan lagi. Pemahaman dan contoh baik lah yang bisa membuat mereka berubah ke arah yang lebih baik,” ujarnya.

Keluarga, yang siap dengan konsekuensi ketulusan.

Anak bungsu dari 8 bersaudara, pasangan Nursali DT Rajo Alam dan  Nursani ini, sangat bersyukur memiliki keluarga yang mendukung tindakannya. Sang istri, Weni Yuferita dan tiga anaknya, Egi Suci Derila, Ega Putra Pratama dan Evan Putra Maiwendri, selalu bersyukur berapapun uang yang bisa dibawa pulang ke rumah.

“Memberi makan, menyewakan rumah dan belanja untuk anak-anak jalanan tersebut, tentu akan mengurangi jumlah rupiah yang bisa saya bawa pulang. Namun, saya bersyukur sekaligus bangga memiliki istri yang berapapun uang saya bawa pulang, selalu disambutnya dengan senyum. Begitu juga dengan anak-anak,” ujarnya.

Berteman dengan siapa saja, asal positif.

Berbagai kisah penuh hikmah pernah dirasakan Deri dalam bergaul dengan puluhan anak jalanan di Taman Kota Solok. Salah satunya adalah tentang kejujuran, ketulusan dan tanggung jawab. Saat itu, di saat hujan lebat sore hari, Deri pergi parkiran dan mendapati seorang anak jalanan yang jadi juru parkirnya sedang berdiri di bawah sebatang pohon di Taman Kota. Saat didekati, juru parkir itu gemetaran dan memberikan setumpuk uang recehan hasil parkir. Ketika ditanya Deri mengapa gemetaran, sang juru parkir itu menjawab bahwa perutnya sakit karena belum makan dari pagi. Mendengar jawaban itu, Deri langsung memeluknya dan langsung pergi membelikan nasi bungkus.

“Saya sangat terkejut. Meski memegang setumpuk uang, dia tidak mau membelanjakannya. Karena sadar itu bukan uang dia, dan rela menahan lapar dari pada memakai uang yang bukan haknya. Itulah tanggung jawab dan kejujuran,” ungkapnya.

Kapolres Solok Kota AKBP Dony Setiawan saat kegiatan nonton bareng Polres Solok Kota di Taman Syech Kukut Kota Solok.

Deri juga mengaku sangat mengapresiasi kepolisian, khususnya Polres Solok Kota, dengan berkurangnya tindak kriminalitas. Hal itu menurutnya berkat usaha kapolres dan jajaran dalam melakukan pendekatan ke masyarakat dan komunitas. Sehingga, Kota Solok menjadi aman dan nyaman. Masyarakat luar juga nyaman di kota persinggahan. Upaya Polres Solok Kota mengadakan acara di Taman Syech Kukut, juga sangat diapresiasi.

“Polres Solok Kota dan Pemko Solok sering melaksanakan berbagai kegiatan di sini. Biasanya, setiap malam minggu, ada tawuran remaja dan balap liar. Meski di setiap acara di sini, pemasukan saya berkurang, namun saya rela, karena kegiatannya positif. Dalam kegiatan itu, Polres selalu menyediakan kopi dan makanan untuk penonton dan masyarakat. Ini sesuatu yang langka. Tapi terbukti mampu mendekatkan masyarakat dengan kepolisian. Demikian juga dengan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan lainnya. Sesuatu yang patut diapresiasi,” ujarnya.

Deri Rajo Bujang bersama Walikota Solok Zul Elfian.

Terhadap Pemko Solok, Deri yang merupakan putra Sawah Sianik Kota Solok, menyatakan dirinya tanggung jawab moral menjaga Kota Solok. Yakni untuk selalu menjaga komitmen untuk kemajuan daerah. Mewujudkan jargon Kota Beras Serambi Madinah, Deri menyatakan Pemko harus berdampingan dengan aparat dan niniak mamak dalam menjaga Kota. Kebersamaan menurutnya adalah kunci membangun daerah.

“Khusus untuk Taman Syech Kukut, kami berharap Pemko agar menambah lampu-lampu, sehingga Taman Kota semakin terang dan nyaman. Sebab, jika gelap, akan memicu kriminalitas, perbuatan mesum dan tempat mengonsumsi atau transaksi narkoba. Lalu, wifi internet gratis jangan dihentikan, karena itu salah satu daya penarik pengunjung dan memberikan kenyamanan,” ungkapnya. (***)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply