55 Pelajar yang Sayat Tangan, Bukan Karena Konsumsi “Torpedo”, Tapi Ikuti Challenge di Medsos

55 Pelajar yang Sayat Tangan, Bukan Karena Konsumsi “Torpedo”, Tapi Ikuti Challenge di Medsos

PEKANBARU – Sebanyak 55 pelajar SMPN 18 Pekanbaru, Riau (sebelumnya 56), yang nekat menyayat tangannya sendiri, ternyata bukan karena mengonsumsi minuman “Torpedo”. Dari penelusuran pihak sekolah dan Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Pekanbaru, ternyata perbuatan itu dilakukan karena mereka mengikuti challenge atau tantangan yang ada di media sosial (Medsos).

Kepala Sekolah SMPN 18 Pekanbaru, Lily Deswita menegaskan, hal itu berawal saat pihaknya melakukan razia terhadap telepon genggam para muridnya sekitar dua pekan yang lalu.

“Awalnya, kita ingin menerapkan disiplin. Dengan melakukan razia pelajar yang membawa HP. Razianya dilakukan dua kali sebulan. Tiba-tiba, kita mendapatkan ada pelajar tangannya disayat,” kata Lily kepada wartawan di SMPN 18 Pekanbaru, Senin (1/10).

Salah seorang guru melihat pakaian yang menutupi lengan seorang murid tersingkap. Sontak guru itu kaget melihat adanya luka sayatan di lengan muridnya. Sang guru langsung menanyai murid tersebut, setelah didesak dengan pertanyaan bertubi-tubi, akhirnya murid itu mengaku melakukan hal nekat tersebut karena mengikuti sebuah challenge yang tersebar di WhatsApp dan Instagram.

Alhasil, para guru di sekolah itu memeriksa satu per satu muridnya. Hasilnya sangat mencengangkan, karena dari 55 murid yang ditemukan luka sayatan di tangannya, adalah murid perempuan dan hanya satu orang murid laki-laki.

“Mereka merasakan sakit melakukan tindakan menyanyat tangan tersebut,” katanya.

Meski mengaku karena adanya challenge di Medsos itu, Lily merasa khawatir apabila anak-anak didiknya itu mengonsumsi narkoba. Lily langsung berkoordinasi dengan Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Pekanbaru.

“Awalnya, kita duga mereka berbohong. Sehingga, kita langsung kontak pihak BNNK,” kata dia.

Setelah dihubungi, barulah BNNK melakukan assessment terhadap para murid. Awalnya, pihak BNN mengira kalau anak-anak belasan tahun ini kecanduan minuman berenergi merek “Torpedo”. Sebab, kebanyakan mengaku meminum minuman itu setiap hari.

Oleh pihak BNN, para murid dilakukan tes urin. Hasilnya urin mereka positif mengandung zat Benzo yang terkandung dalam minuman torpedo. Untuk lebih pasti, BNN kemudian mengirimkan sampel Torpedo ke Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Pekanbaru.

“Hasilnya sudah kita dapat, ternyata keterangan mereka benar. Mereka hanya ikut-ikutan callenge sayat tangan yang sedang viral,” ucap Lily.

Walaupun negatif, tetapi pihak sekolah sudah mengimbau para pemilik kantin untuk tidak menjual minuman itu lagi. Pihak sekolah juga kata dia, sudah berkoordinasi dengan para orang tua murid.

Dengan adanya insiden ini, pihak sekolah akan semakin memperketat pengawasan. Ia berharap, ke depannya peristiwa serupa tidak terulang. Dengan melakukan koordinasi dengan orang tua siswa.

Terpisah, Kepala BNNK Pekanbaru AKBP Sukito mengatakan, pihaknya sudah menerima hasil uji dari BPPOM Pekanbaru. Memang, diakuinya hasilnya negatif.

“Memang hasil dari BPOM negatif,” ungkapnya.

Soal rilis pertama, pihaknya menyatakan, minuman itu (Torpedo) mengandung Benzo. Ia menjelaskan, kadarnya mengandung benzo apabila dikomsumsi secara berlebihan.

“Iya kalau minum empat atau lima gelas, mungkin bisa terdeteksi. Hal itu, sesuai dengan himbauan di kemasan bahwa, torpedo tidak diperuntukkan dikomsumsi ibu hamil dan anak-anak,” ungkapnya. (*/PN-001)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply