Padang TV Kupas LGBT Bersama Syamsu Rahim, Fauzi Bahar, Indra Syarif dan Mahasiswa PGSD UBH

Padang TV Kupas LGBT Bersama Syamsu Rahim, Fauzi Bahar, Indra Syarif dan Mahasiswa PGSD UBH
Syamsu Rahim (kanan), memberikan paparan terkait LGBT di Studio Padang TV, Kamis malam (25/10).
  • “Mimbar Mahasiswa, Mengupas Realitas”

PADANG – Stasiun Televisi lokal Sumbar, Padang TV, menggelar “Mimbar Mahasiswa, Mengupas Realitas” dengan topik solusi pemberantasan lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) di Stasiun Padang TV, Jalan Adinegoro Padang, Kamis malam (25/10). Program yang disiarkan secara live tersebut, menghadirkan tiga caleg DPR RI dari daerah pemilihan (Dapil) 1 Sumbar. Yakni Syamsu Rahim dan Fauzi Bahar dari Partai Nasdem, dan Indra Syarif dari Partai Berkarya. Pada program andalan Padang TV yang dipandu presenter Nashrian Bahzein ini, turut hadir Caleg DPR RI NasDem dari Dapil Sumbar 2 Erizal Efendi, dan Calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) asal Sumbar, Tukiman. Tampil sebagai panelis, Khairul Anwar Dt Tan Marajo. Acara ini dihadiri oleh mahasiswa dari Universitas Bung Hatta (UBH) Padang.

Indra Syarif, Fauzi Bahar, Syamsu Rahim.

Dalam paparannya, Indra Syarif menyatakan LGBT adalah sebuah dampak sistemik, yang sedang terjadi dan akan terjadi. Sehingga menurutnya, harus ada penanganan komprehensif untuk mengeliminir dampak. Indra Syarif menyayangkan, selama ini dalam penanganan LGBT, hanya berkutat pada diskusi, dibanding aksi. Menurutnya, data adanya sekitar 21 ribu “penderita” perilaku menyimpang tersebut di Sumbar, merupakan masalah serius yang butuh penganan komprehensif.

“LGBT adalah virus sistemik. Sama saja ada genosida generasi. Semua agama menolak LGBT. Pendidikan banyak gagal di sekolah rendah. Kita harapkan, pemerintah agar segera bangun panti rehabilitasi penderita LGBT ini. Diperlukan political will dari pemerintah untuk memberantasnya. Data adanya 21 ribu masyarakat Sumbar terjangkit LGBT, bukan angka yang kecil. Pemerintah harus sungguh-sungguh,” ujarnya.

Mshasiswa PGSD Universitas Bung Hatta.

Sementara itu, Fauzi Bahar menyatakan bahwa LGBT adalah parasit yang harus dipangkas habis. Menurut mantan Walikota Padang tersebut, pada tahun 1970-an, kenakalan remaja hanya dikenal hanya berambut gondrong, tak masuk baju, jahat ke teman. Lalu, video porno, bunuh diri, kriminalitas lain. Namun sekarang, krnakalan remaja berkembang menjadi penyalahgunaan Narkoba, tawuran dan LGBT. Khusus untuk LGBT, Fauzi Bahar menyatakan bahwa jurus paling jitu memberantas adalah dengan memperkuat akidah dan akhlak.

“LGBT bagai serigala yang akan menerkam masa depan. Sebelumnya kita tidak kenal LGBT. LGBT adalah kemungkaran, jadi pemberantasannya harus dilakukan penguasa. Bagi kampus yang memiliki mahasiswa yang LGBT, nahasiswa tersebut harus di-DO (drop out/dikeluarkan) dari kampus. Sehingga akan memberi pelajaran ke yang lain. Karena mencoreng nama kampus dan ranah minang,” tegasnya. 

Sementara itu, Syamsu Rahim dalam paparannya kembali mengingatkan bahwa komitmen orang Minang sudah ada, yakni adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (ABS-SBK). LGBT menurutnya jelas bertentangan dengan falsafah tersebut. Meski begitu, politisi senior Sumbar yang pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Kota Sawahlunto, Walikota Solok dan Bupati Solok tersebut, mengharapkan agar seluruh elemen untuk jangan saling menyalahkan, mengecam dan mengutuk. Harus ada introspeksi diri bagi orang tua, mamak, legislatif, eksrkutif dan elemen masyarakat lainnya.

“Selama ini, kita hanya berkutat menyalahkan yang berbuat. Mengapa kita tidak introspeksi diri, orang tua yang tak menjaga anak, mamak yang tidak menjaga kemenakan, saudara yang tidak menjaga saudaranya. Ingat, guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Mengapa, setelah semakin banyak masjid, mushala, orang naik haji harus antre, tayangan agama setiap hari, tapi penyimpangan tetap banyak, bahkan semakin tinggi dan semakin canggih. Karena itu, kita butuh penyadaran, bahwa LGBT menjadi marak karena kita sudah mulai meninggalkan falsafah dan kearifan lokal kita selaku masyarakat Minangkabau. Kini bukan saatnya lagi mengecam, mengutuk dan menyalahkan. Tapi berikan solusi,” ungkapnya.

Syamsu Rahim (kanan), memberikan paparan terkait LGBT di Studio Padang TV, Kamis malam (25/10).

Syamsu Rahim mengemukan solusi untuk mencegah LGBT adalah dengan memaksimalkan fungsi institusi adat dan lembaga kemasyarakatan. Menurutnya regulasi saat ini tidak lagi begitu efektif, jika tidak didukung dan didorong oleh keinginan dari masyarakat. Yakni mengurai dan memberi solusi terhadap permasalahan dari hulu.

“Berdayakan institusi adat dan kemasyarakatan. LKAAM, niniak mamak, bundo kandung, pemuda harus dikembalikan fungsinya sebagai penjaga anak kemenakan. Jangan cuma top down atau kebijakan dari atas ke bawah, tapi hatus bottom up atau gerakkan dari bawah. Program preventif, jauh lebih utama. Agar yang belum terjebak perilaku menyimpang bisa diselamatkan. Sanksi sosial, yakni rasa malu jauh lebih berat dari sanksi hukum,” ujarnya. 

Panelis, Khairul Anwar Dt Tan Marajo, menyatakan kenyataan di lapangan (masyarakat), angka LGBT jauh lebih besar dari data yang beredar. Pria yang juga aktif mengurus masalah HIV/AIDS tersebut, menyatakan HIV/AIDS banyak bersumber dari Narkotika suntik, perilaku gay, biseksual dan transgender. Antara HIV/AIDS dan LGBT, menurutnya adalah dua hal yang berbeda. Karena itu, butuh penanganan khusus.

Calon DPD RI, Tukiman bersedia mengambilkan foto bersama caleg Indra Syarif dan Fauzi Bahar.

“Kita menganggap mereka berperilaku menyimpang. Namun, menurut mereka, LGBT adalah pilihan hidup, bukan menyimpang. Karena itu, butuh penanganan khusus. Selama ini, tidak ada progress dari pemerintah. Karena itu, butuh kesadaran dari masyarakat untuk bersama-bersama memberantasnya,” tegasnya.

Mahasiswa PGSD UBH mengajukan pertanyaan ke narasumber.

Mahasiswa PGSD Universitas Bung Hatta, Randa Fadli, menyanggah statement Fauzi Bahar yang menyatakan bahwa penguasa yang bisa memberantas LGBT dengan aturan. Menurutnya, semua elemen masyarakat harus bersama-sama, bukan hanya dengan tangan penguasa. Mahasiswa lainnya, Nanda Friska dan Faudin Yazid, juga menjelaskan terhadap yang memiliki perilaku menyimpang tersebut, harus ditumbuhkan kesadaran bahwa hal itu salah. Sehingga, LGBT tidak berkembang dan menjadi penghambat perkembangan kehidupan yang bermoral dan beradab. (rijal islamy)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply