Solok FC dan Ironi Sepakbola Kabupaten Solok

Solok FC dan Ironi Sepakbola Kabupaten Solok

SOLOK – Masyarakat Solok Raya (Kabupaten Solok, Kota Solok dan Kabupaten Solok Selatan), dikejutkan dengan hadirnya sebuah klub sepakbola baru yang diberi nama Solok Football Club atau disingkat dengan Solok FC. Berjuluk Pandeka Gunuang Talang, Solok FC yang berdiri pada 4 September 2017, menggebrak kiblat sepakbola Ranah Minang, dengan menjuarai Liga 3 PSSI Regional Sumbar 2018 pada 30 Juli 2018. Bahkan, di Liga 3 Regional Sumatera, Solok FC semakin terbang tinggi dengan tampil sebagai wakil Sumatera 1. Solok FC menjadi satu-satunya wakil Sumbar di Liga 3 Nasional. Usai melewati hadangan tiga tim asal Sumut. Yakni Bhinneka FC (1-0 dan 1-2/agregat gol tandang), PSDS Deli Serdang (0-0 dan 3-0) dan Medan Utama FC (2-1 dan 1-0). 

Keberhasilan Solok FC tersebut menjadi sebuah sejarah, sekaligus angin segar dan kebanggaan bagi masyarakat. Di Liga 3 Nasional, Solok FC tergabung di Grup B. Berisikan PSCS Cilacap, PSBL Langsa dan Persid Jombang. Baru kali ini, ada nama Solok, baik Kota Solok, Kabupaten Solok maupun Solok Selatan, “beredar” di kancah sepakbola nasional.

Namun, ironi dan anomali justru terjadi di kategori amatir, khususnya di sepakbola Kabupaten Solok. Sejarah juga terukir. KONI Kabupaten Solok pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumbar November 2018. Sebuah ironi dan hal yang sangat tak lazim terjadi, sebab, sepakbola di Kabupaten Solol merupakan cabang yang sangat populer. Hampir seluruh nagari di Kabupaten Solok memiliki lapangan sepakbola. Bahkan, Kapten Solok FC, Hasnul Rivan, berasal dari Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok. 

Sepakbola, sebuah cabang yang sangat spesial dalam setiap multi iven olahraga di level apapun. Mulai dari Olimpiade, Asian Games, SEA Games, PON, Porprov, Porkab, Porkot, bahkan hingga tingkat kecamatan hingga nagari. Dipertandingkan jauh hari sebelum pembukaan multi iven, sepakbola justru menjadi semacam “the last supper”, perjamuan terakhir atau sajian puncak di closing ceremony (upacara penutupan). Meraih juara umum, tapi tanpa medali emas cabang sepakbola, terasa hambar, ibarat sayur tanpa garam.

Solok FC, lahir bertepatan pada saat sepakbola di berbagai belahan dunia tidak hanya sekedar dipandang sebagai salah satu cabang olahraga yang digandrungi masyarakat luas. Namun, Solok FC lahir ketika sepakbola berkembang menjadi sebuah industri, apalagi didukung oleh masyarakat Solok yang “gila bola”. Solok FC lahir dari ide seorang pengusaha yang juga gila bola dan kini menjabat sebagai anggota komite eksekutif (Exco) PSSI, yaitu Verry Mulyadi. Tidak begitu banyak yang kenal dengan sosoknya di Kota Solok, Kabupaten Solok, apalagi di Kabupaten

Verry Mulyadi
CEO Solok FC

Solok Selatan. Namun Verry, yang besar di Kota Padang, merupakan putra asli Galagah, Nagari Muaro Paneh, Kecamatan Bukit Sundi Kabupaten Solok. Verry juga menjadi sejarah, sebagai putra Solok pertama dan satu-satunya yang menjabat sebagai Exco PSSI.

“Bukan saya saja yang gila bola. Hampir seluruh masyarakat Kabupaten Solok gila sepakbola,” ujar Verry Mulyadi.

Hadirnya Verry Mulyadi di kepengurusan PSSI Pusat, seharusnya menjadi angin segar bagi perkembangan persepakbolaan di Solok Raya, khususnya Kabupaten Solok. Apalagi, Sekretaris Umum Solok FC, Alfis Primatra, juga duduk di Komite Tetap PSSI. Alfis merupakan putra Nagari Guguak, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok. Bahkan, sebagai putra Kabupaten Solok, baik Verry maupun Alfis, tentu memiliki niat dan tanggung jawab moral untuk memajukan olahraga Kabupaten Solok, khususnya sepakbola. Bahkan, dalam waktu dekat ini, Solok FC segera membuka akademi sepakbola. Mulai dari tingkat nagari, kecamatan hingga kabupaten, di tiga daerah Solok Raya. 

“Solok adalah daerah yang memiliki potensi besar untuk membangun dunia persepakbolaan. Talenta dan bakat sepakbola Solok Raya begitu luar biasa. Ini harus dimaksimalkan. Salah satu caranya adalah dengan melakukan pelatihan dan pendidikan melalui akademi sepakbola. Mulai dari usia dini, anak-anak, remaja hingga dewasa. Ini tanggung jawab kami sebagai putra daerah,” ujarnya.

Menanggapi tidak dikirimnya cabang sepakbola di Porprov Sumbar 2018, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Solok, Rudi Horizon, menyatakan tidak ikutnya cabang sepakbola dan futsal, disebabkan banyak persoalan. Di antaranya, adalah persoalan internal di kepengurusan Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI dan persoalan minimnya dana KONI Kabupaten Solok jelang Porprov. Menurut Rudi, persoalan tersebut membuat KONI Kabupaten Solok harus memilih.

Ketua KONI Kabupaten Solok Rudi Horizon (kiri) bersama Ketua KONI Sumbar Syaiful.

“Hingga kini, belum ada perpanjangan Plt (pelaksana tugas) dan Askab Kabupaten Solok Plt-nya di Asprov PSSI Sumbar. Ditambah lagi, sejak Juni lalu, dana KONI Kabupaten Solok hanya Rp 2,4 miliar. Sebelumnya, untuk tahun 2018, KONI Kabupaten Solok mendapat dana Rp 3,9 miliar. Sekitar Rp 1 miliar, sudah habis membayar bonus atlet dan pelatih peraih medali di Porprov 2016. Kemudian untuk uang pembinaan bagi atlet dan pelatih berprestasi, serta pembiayaan operasional sekretariat KONI,” ujar Rudi Horizon, Senin (24/9).

Rudi menyatakan, dana Rp 2,4 miliar tersebut sudah termasuk kontribusi kepada tuan rumah Padang Pariaman sebesar Rp 150 juta. Lalu operasional menjelang Porprov, pembelian peralatan latihan, hingga biaya selama Porprov. Rudi juga menyatakan pihaknya sudah mengusulkan dan melobi anggota DPRD Kabupaten Solok untuk penambahan anggaran. Terutama pembiayaan untuk keikutsertaan di Porprov. Namun, hal itu tidak dikabulkan, dengan alasan dana daerah sedang defisit.

“Baik Pemkab maupun DPRD, beralasan dana daerah sedang defisit. Sehingga, kami memaksimalkan saja dana yang ada. Ditambah lagi persoalan di internal cabang. Sehingga, ada sejumlah cabang yang terpaksa tidak diberangkatkan,” ujarnya. 

Rudi juga menekankan, bahwa KONI adalah pembina olahraga prestasi. Menurutnya, pada Porprov 2018 ini, tidak hanya sepakbola, sejumlah cabang juga tidak diberangkatkan. Yakni futsal, kriket, arung jeram, balap sepeda, senam dan sepaktakraw. Rudi tidak ingin mengirim cabang yang sekadar untuk meramaikan iven. Karena KONI Kabupaten Solok memiliki target tinggi di Porprov 2018, yakni sebanyak 60 emas. Jumlah ini naik dibandingkan raihan di Porprov 2016 lalu, sebanyak 43 emas, 43 perak dan 41 perunggu.

“Meski dengan dana yang minim, tapi dengan semangat dan antusias seluruh cabang, kita sangat optimistis target itu akan tercapai. Apalagi, di sejumlah iven tingkat daerah, regional, nasional dan bahkan internasional, atlet-atlet Kabupaten Solok mampu meraih medali tertinggi,” ujarnya. (rijal islamy)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply