Transformatif Dakwah Pada Revolusi Industri 4.0

Transformatif Dakwah Pada Revolusi Industri 4.0
  • Dhea Alfina Damatussolah                                .                     (Mahasiswi IAIN Tulungagung)

Dalam ajaran Islam dikenal konsep inti yang populer dengan nama dakwah, yang didefinisikan sebagai kegiatan komunikasi dengan sasran masyarakat dengan mana ajaran Islam hendak diwujudkan. Menurut firman Allah dalam Qs Al-A’raf,157: pesan dakwah itu harus mengandung; (1) amar ma’ruf nahi munkar, perintah untuk berbuat baik dan meninggalkan perbuatan jelek, (2) penjelasan mengenai mana yang halal dan mana yang haram, (3) hal-hal yang membebaskan manusia dari beban kehidupan dan belenggu yang memasung kehidupan mereka. Melalui dakwah pesan ideologis dari ajaran Islam hendak disemaikan dan dengan bantuan media ideologi itu didisbrusikan secara persuasif. Jika merujuk pada Roymond Williams yang mendefinisikan ideologi sebagai, himpunan ide-ide yang muncul dari seperangkat kepentingan material tertentu atau, secara lebih luas, dari sebuah kelompok atau kelas tertentu; maka ideologi Islam merupakan sejumlah kepentingan dari segolongan umat yang hendak membangun dan melestarikan pola hubungan yang dominan CITATION Pra03 \l 1057  (Prasetyo, 2003). 

Yang menjadi polemik besar masyarakat khususnya masyarakat Islam, adalah hilangnya karakter untuk siap dan rela berjuang dalam menebarkan nilai-nilai dakwah di era ravolusi industri 4.0 (internet of things). Bisa disebut saja, masyarakat era ini lebih terlalaikan akan tugas utamanya berjuang di jalan Allah SWT. Perkembangan teknologi yang memesat, kurang meratanya ekonomi masyarakat, seakan membuat masyarakat millenial lebih apatis dan tidak progresif dalam upaya memecahkan permasalahan.

Sikap pasif dan apatis ini berlangsung beratus-ratus tahun mendera umat Islam hingga belakangan ini kecuali sekelompok kecil. Kreativitas mereka menjadi lumpuh disertai sikap-sikap pasrah atau penyerahan diri kepada nasib, apapun yang akan dialami, yang merupakan suratan taqdir dari Allah SWT, sebagai ekspresi dan aplikasi paham fatalisme (jabariyah) yang menguasai berbagai kehidupan mereka. Keadaan ini makin parah setelah mereka diperlakukan sebagai warga jajahan bagi bangsa-bangsa Barat, seperti Portugis, Inggris, Perancis, dan Belanda. Sebagai warga jajahan, mental mereka diperbudak secara paksaan dan kekerasan, sementara mereka tidak memiliki sumber daya manusia (human reseorces) yang kuat, sehingga tidak mampu memberikan perlawanan yang seimbang dengan strategi-strategi yang ampuh dan efektif CITATION Qom12 \l 1057  (Qomar, 2012).

Kemudian setelah Indonesia berhasil mengambil kemerdekaannya, apakah masyarakat telah merombak pemikiran pasif dan sikap apatisnya?. Tidak secepat itu terjadi begitu saja. Hal ini juga berimplikasi dengan sebuah sistem yang menjadi dongkrak pola pemikiran dan sikap dari masyarakat Indonesia yaitu pendidikan Islam. Lewat pendidikan agama yang harusnya mampu membenarkan pola pikir yang keliru dan sikap yang kurang tepat. 

Pendidikan agama di Indonesia, oleh banyak kalangan, dinilai telah gagal total. Kegagalan itu bisa ditenggerai dari maraknya kasus korupsi, vandalisme, tawuran antar pelajar, meningkatnya angka kehamilan dan aborsi di kalangan remaja-pelajar, meingkatnya kasus kriminalitas, maraknya kasus narkoba, dan sebagainya, yang notabene pelakunya adalah orang-orang beragama CITATION Sut12 \l 1057  (Sutrisno, 2012). Seperti halnya dengan masyarakat Islam yang sebagaian penduduk besarnya kini sedang berada di tengah berbagai persoalan yang teramat kompleksCITATION Sut12 \p 76 \l 1057  (Sutrisno, 2012, hal. 76).

Nah saat ini, bangsa kita tengah mengalami bermacam-macam krisis yang membuatnya semakin terpuruk. Krisis ekonomi, kepemimpinan, kepercayaan, kedamaian, kesejahteraan, dan sebagainyaCITATION Sut12 \p 77 \l 1057  (Sutrisno, 2012, hal. 77). Abudin Nata (1998) memberikan penjelasan menarik terkait misi Islam sebagai pembawa rahmat tersebut. Menurutnya, misi Islam sebagai pembawa rahmat dapat dilihat dari peran yang dimainkan Islam dalam mengatasi berbagai persoalan masyarakat dalam berbagai aspeknya. Seperti sosial, ekonomi, politik, hukum, dan sebagainya. Dalam bisang sosial, Islam mengusung ajaran kesetaraan manusiaCITATION Sut12 \p 78 \l 1057  (Sutrisno, 2012, hal. 78). Dan jug dalam bidang lainnya yang memihak pada kesejahteraan umat dan bangsa.

Seiring dengan fenomena itu pula para aktivis dakwah hendaknya berusaha menerjemahkan kembali suatu aktivitas bernama dakwah yang lebih menyentuh persoalan kemanusiaan, sebagaimana yang dikehendaki oleh irama perubahan itu sendiri. Pemikiran tersebut dilatar belakangi oleh realita bahwa selama ini pemahaman orang tentang dakwah terasa masih amat sempit dan baru berkisar di seputar wilayah tabligh atau pengajian rutin harian, mingguan, maupun bulanan. Sementara, tabligh sesungguhnya baru merupakan kegiatan dakwah oral. Sedangkan, dakwah oral, menurut Amrullah Ahmad yang akan mampu memasuki wilayah pinggir (marjinal) dalam percaturan sosial, yang nyaris tidak pernah memberikan jawaban apa-apa terhadap persoalan konkret kemanusiaan CITATION Sud14 \l 1057  (Sudarto, 2014). 

Selain itu, dakwah masih sangat terkesan acak-acakan, padahal tuntutan zaman menginginkan pendekatan yang lebih cerdas dan sistemikCITATION Sud14 \p 149 \l 1057  (Sudarto, 2014, hal. 149). Meskipun hari ini muncul banyaknya juru dakwah atau yang disebut denga da’i dari kalangan muda dan mengesankan penampilan rapi, manun tidak menunjukkan kedalaman bagaimana jelasnya kajian tentang pesan dakwah. Persoalannya yang mendalam bahwa antara du’i atau penyeru dan mad’u sebagai yang diseru masih dalam kondisi lemah, sehingga perlu adanya intropeksi diri.

Misi dakwah hari ini pun masih terfokuskan dengan permasalahan susial dan kurang menyetuh pada permasalahan sosial. Padahal masalah sosial hari ini terlihat lebih esensial seperti kebodohan, kemiskinan, ketertinggalan yang menyebabkan umat Islam menjadi defensif atas apa yang berubah dan berbeda. Dakwah yang selama ini menjadi urat nadi dan gerakan aktualisasi Islam sepertinya belum lagi hadir dalam bentuk tatanan yang rapi sebagai layaknya sentuhan manajerialCITATION Sud14 \p 156 \l 1057  (Sudarto, 2014, hal. 156). 

Di sisi lain, sampai hari ini, dakwah Islam masih terkesan membisu ketika dihadapkan dengan pendekatan praksis teologis dan filosifis epistemologis. Selain itu dakwah sebagai ilmu yang memang tidak memiliki landasan historis, semakin tidak kuasa ketika dihadapkan dengan dahsyatnya pertumbuhan disiplin ilmu-ilmu baru seiringan dengan cepatnya laju sains dan teknologi. Akibatnya, dakwah sebagai ilmu semakin menjadi barang yang asing di lingkungannya sendiri. Dengan kata lain, dakwah belum menjadi tenaga pembebasan sebagaimana dalam kerangka pemikiran teologi pembebasanCITATION Sud14 \p 156 \l 1057  (Sudarto, 2014, hal. 156).

Oleh karenanya, kewajiban bagi umat Islam mampu menghadikan nilai-nilai sosialnya yang tinggi dalam dakwah. Dakwah bukanlah milik para juru bicara saja, namun adalah kewajiban bagi setiap muslim. Maka perlunya ada upaya yang cerdas dalam mengatasi polemik sosial dengan menyatu terhadap masyarakat. Bukan hanya ahli di dalam kajian Islam atau juru bicara saja yang hanya merespon permasalahan dan fenomena yang muncul di permukaan. Yang dibutuhkan bangsa ini bukanlah hanya pemikiran yang cerdas dan lupa akan aksi. Namun sebuah pemikirann yang cerdas diaplikasikan dengan aksi kepedulian yang tinggi antar masyarakat. Selain itu juga memerlukan generasi bangsa yang melek teknologi untuk memanfaatkannya dalam upaya dakwah dalam pusaran media. Karena dengan bisa menguasai media, di era revolusi industri 4.0 ini akan mampu menggengam permasalahan Indonesia bahkan dunia. Yuk berdakwah!

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply