Berharap Berkah dari Langit

Berharap Berkah dari Langit

Kota Beras Serambi Madinah di “Segitiga Emas” Pulau Sumatera
* Berharap Berkah dari Dari Langit

Beda pemerintahan, beda pula kebijakan. Berbeda program, berbeda pula pendekatan. Meski tujuan sama, seni memimpin akan terevaluasi secara alami melalui proses, dampak dan hasil. Bagaimana Kota Solok setelah duet Zul Elfian dan Reinier memimpin selama dua tahun lebih?

Laporan RIJAL ISLAMY, Solok

Hari Ulang Tahun Kota Solok ke-45, tanggal 16 Desember 2015, menjadi hari yang super spesial. Tidak sekadar merayakan umur daerah di usia dewasa, di hari yang spesial itu, pasangan Zul Elfian Dt Tianso dan Reinier Dt Intan Batuah ditetapkan sebagai pemenang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Solok. Pasangan dengan tagline ZoRo (Zul Elfian Oke, Reinier Oke) menngalahkan dua pasang kontestan lainnya dengan raihan 14.887 suara. Mereka mengalahkan pasangan Ismael Koto-Jon Hendra (Iko-JH) yang meraih 10.057 suara dan Irzal Ilyas-Alfauzi Bote (Irzal Menang Alfauzi Mantap/IMAM) yang hanya meraup 6.843 suara. 

Euforia kemenangan dari pendukung, tim sukses dan sebagian besar masyarakat Kota Solok langsung terasa. Zul Elfian yang sebelumnya merupakan Wakil Walikota Solok periode 2009-2014, mengalahkan Walikota petahana, Irzal Ilyas, dan kompatriotnya sesama asal Saningbaka, Kabupaten Solok, Ismael Koto.

Kemenangan Zul Elfian-Reinier di Pilkada Kota Solok, tidak terlepas dari sosok Zul Elfian sebagai salah satu dai kondang di Kota Solok dan Kabupaten Solok. Didukung tampilannya yang bersahaja, ramah dan merakyat, Zul Elfian sukses meraup simpati masyarakat. Birokrat senior di Pemko Solok tersebut, menjadi harapan bagi lebih dari 50 ribu warga Kota Solok.

Lalu, apa yang diharapkan dari pemimpin seorang “buya”? Disinilah Zul Elfian dan Reinier menancapkan perbedaan. Yakni dengan mengusung jargon baru, “Kota Beras Serambi Madinah”. Sejak awal mencetuskan jargon tersebut, Zul Elfian-Reinier telah menjelaskan bahwa empat kata tersebut penjabaran dari dua komitmen, yaitu Kota Beras dan Serambi Madinah. Kota Beras adalah komitmen ekonomi dan Serambi Madinah adalah komitmen religiusitas.

Secara turun-temurun diwariskan dari pemerintahan sebelumnya, potensi Kota Solok adalah lokasinya yang sangat startegis. Yakni berada di segitiga emas Provinsi Sumbar dan perlintasan antarkota di Pulau Sumatera. Sehingga, jargon Kota Beras Serambi Madinah, dianggap “murtad” dari pakem “Kota Perdagangan dan Jasa”. Jargon ini sempat menjadi pro kontra di masyarakat, apalagi di kalangan elit politik.

Meski tidak sedikit yang melempar keraguan, celaan, bahkan hinaan terhadap jargon tersebut, Zul Elfian-Reinier tetap pada komitmennya. Bahwa, agama memang tidak bisa memberi manusia makan, pakaian dan tempat tinggal secara langsung. Namun, agama bisa mengantarkan manusia mencapai tujuan hidup dan ketenangan batin.

“Ada janji Allah dalam Alquran surat Al A’raf ayat 96 ditegaskan; “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, akan tetapi jika mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. Kita baru bisa sejahtera kalau sudah mendapat berkah dari Allah. Kaya harta tapi tidak diberkahi, maka hidup kita akan terasa hampa dan tidak sejahtera. Karena itu kita harus bangun kekuatan spiritual terlebih dahulu kemudian baru membangun kekuatan ekonomi,” tegas Zul Elfian.

Menduduki jabatan nomor satu di Kota Solok, Zul Elfian dihadapkan pada kennyataan, bahwa sebanyak 4,7 persen masyarakat Kota Solok, diketagorikan miskin! Ironis, karena sebagian besar dari warga miskin itu berasal dari kalangan petani. Hasil panen dari beras ternama tersebut, dijual untuk membayar hutang. Petani, justru mengkonsumsi beras miskin (Raskin).

Berbagai program kongkret yang lansung menyentuh nasib akar rumput, langsung diaplikasikan. Kemiskinan yang menimpa warga Kota Solok, berasal dari dua hal. Pertama, miskin karena murni faktor ekonomi, dan kedua, miskin karena lemah secara mental dan moral. Berbagai program langsung diluncurkan, seperti Dokter Rohani, Magrib Mengaji, Shalat Berjamaah, Safari Fajar, Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit), Gaung Masjid, Puasa Senin Kamis dan berbagai program bernuansa religi lainnya.

“Dengan strategi ini, Kota Solok selama dua tahun kita telah berhasil menurunkan angka kemiskinan dari 4,7 persen menjadi 2,5 persen. Insyaallah satu atau dua tahun lagi angka kemiskinan di Kota Solok hanya tinggal 1 persen saja,” ujar Zul Elfian optimistis.

Kepala Bagian Kesra Kota Solok, Heppy Dharmawan mengatakan, program-program tersebut mampu mengubah wajah dan suasana Kota Solok. Dalam program Dokter Rohani, Pemko Solok menurunkan 50 Pembimbing Agama Islam Khusus di 13 kelurahan yang ada di Kota Solok. Mereka menemui keluarga miskin ke rumah-rumah untuk memberikan bimbingan rohani dengan mengajarkan praktik ibadah, seperti bagaimana cara berwudhuk, shalat, membaca Alquran dan lain-lainnya.

“Kenyataannya, rata-rata keluarga miskin itu memang tidak menunaikan ibadah shalat, tidak bisa baca Alquran, bahkan ada yang tidak tahu bagaimana cara berwudhuk,” ujar Heppy.

Setelah perbaikan ibadah dan pemahaman agama, Pemko secara beriringan meluncurkan program Lembaga Keuangan Mikro Berbasis Masjid (Gaung Masjid). Pada program Gaung Masjid ini seluruh tokoh masyarakat diajak bermusyawarah dalam mengatasi kemiskinan, terutama jamaah dan masyarakat yang tinggal di sekitar masjid. Kemudian, dilakukan penghimpunan dana pinjaman kepada masyarakat miskin tanpa bunga dan tanpa agunan. Bagi masjid yang dinilai berhasil, Pemko Solok memberikan stimulan berupa reward tambahan modal. Secara alami, masyarakat terbantu secara ekonomi dan masjid senantiasa ramai. Dari 53 masjid dan 72 mushala yang ada di Kota Solok, sudah ada 30 masjid yang telah memiliki Gaung Masjid.

Untuk melihat kondisi riil masyarakat, Pemko Solok melalui program Safari Fajar, mengunjungi masjid-masjid di Kota Solok untuk Shalat Subuh berjamaah. Usai shalat, Walikota, Wakil Walikota, Kepala OPD, pimpinan BUMN dan BUMD, berdialog langsung dengan jamaah untuk mengetahui persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Untuk menyejahterakan masyarakat dan  memerangi kemiskinan, harus dibangun dua kekuatan besar sekaligus. Yakni kekuatan ekonomi dan kekuatan spiritual. Dengan membangun kedua kekuatan itu, Kota Solok akan menjadi kota yang penduduknya sejahtera dan diberkahi. Itu komitmen kami,” ujarnya.

Layaknya keran air yang terbuka, beragam inovasi ikut mengalir deras dari aparatur Pemko Solok. Stimulan oleh Pemko Solok tersebut, mampu melahirkan berbagai inovasi. Bahkan, kini, Kota Solok telah menahbiskan diri sebagai Lumbung Inovasi Daerah di Provinsi Sumatera Barat. Kota Solok, bahkan masuk dalam 10 besar nomine kota sangat inovatif di Indonesia. Yakni dalam menciptakan inovasi daerah, menyusun regulasi inovasi, strategi inovasi dan pendanaan, proses menggerakkan OPD, dan penerapan inovasi.

Sejarah inovasi Kota Solok dimulai pada tahun 2016 dengan mengoptimalkan peran salah satu OPD, yakni Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Barenlitbang). Lalu, pada Maret 2017 Pemko Solok melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Lembaga Administrasi Negara (LAN RI) untuk membentuk Laboratorium Inovasi Administrasi Negara. Di awal terbentuknya, OPD-OPD di Pemko Solok berhasil melahirkan 177 ide inovasi. Lalu, terjaring sebanyak 158 inovasi yang dinilai layak untuk dilaksanakan. Meski baru seumur jagung, pada tahun 2017, Kota Solok dianugerahi Inagara Award dari LAN RI. Sejak tahun 2017 hingga 2018 ini sudah terlaksana 100 Inovasi dengan pengelola sebanyak 300-an orang aparatur.

Menjadi laboratorium inovasi, ASN dan OPD Pemko Solok menjadi lebih termotivasi dan mudah berinovasi. Aparatur dan OPD seakan digiring keluar dari budaya bussines as usual (kerja seperti biasa), atau terjebak dalam rutinitas. Aparatur juga terdorong meningkatkan kinerja, bekerja efektif dan efisien dalam menggunakan anggaran. Bagi masyarakat, dampak besar juga dirasakan secara drastis. Yakni pelayanan publik yang lebih baik. 

Pada konvensi inovasi oleh Pemko Solok, terdapat 10 inovasi diberi prediket terbaik. Pertama, PSC 119 SMASH CARE’S dari Dinas Kesehatan. Yakni berupa layanan kesehatan gratis bagi masyarakat terhadap seluruh masyarakat Kota Solok. Sistem kerjanya, masyarakat cukup menelepon layanan 119, dan petugas PSC Smash Care dalam hitungan menit tiba di rumah warga dan melakukan pertolongan kesehatan awal. Jika tidak tertanggulangi atau butuh tindakan kesehatan lanjutan, petugas langsung merujuk pasien ke Puskesmas atau rumah sakit terdekat.

Kedua, ANAK DENAI (Antar Baca, Tarik, Digilir Dengan yang Lain) dari Dinas Perpustakaan dan Arsip. Inovasi ini, dilakukan di setiap kelurahan, masing-masing 2 RT, dan setiap RT ada 25 Kepala Keluarga melaksanakan Program Buku Bergulir. Paket tas buku berisi 5 buku sesuai kriteria usia, yakni Ayah, Ibu, Remaja, Anak‐Anak dan Balita. Setiap rumah Buku Bergulir diberikan Stiker Bulir. Adapun peningkatan penggunakan buku dimulai dari 8.000 dan sekarang telah  menjadi 18.000 buku. Inovasi ini bekerjasama dengan Yayasan Gemar Membaca, adapun hasil evaluasi inovasi ini, 80 persen peserta meminta untuk dikirim buku sesuai dengan minat masyarakat.

Ketiga, TAPASO JARWO (Taman Padi Solok Jajar Legowo) dari Dinas Pertanian. Yakni gerakan memasyarakatkan program tanam jajar legowo. Saat ini sudah 60 persen petani menggunakan metode Jarwo ini. Hasilnya, peningkatan produksi padi Kota Solok dari 16.150 ton menjadi 17.350 ton. Metode ini menjadikan pemandangan sawah menjadi lebih indah dan memungkinkan potensi Agro wisata.

Keempat, LAGI SENANG (Kelas Gizi Anak Sehat Cemerlang) dari Puskesmas Tanah Garam. Inovasi ini bertujuan untuk mengatasi kasus kurang gizi pada usia dini dan usia sekolah. Berupa pemberian makanan tambahan langsung diberikan kepada Balita melalui kelas Gizi, yang dimasak oleh kader dan masyarakat sekitar. Pemberian Makanan tambahan di kelas setiap hari selama 10 hari berturut-turut. Hasilnya terdapat peningkatan berat badan balita sesuai harapan.

Kelima, SIMESRA (Sistem Informasi Pemesanan Ruang Rapat) dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Inovasi berbasis teknologi, untuk menghindari gandanya pemakaian ruang rapat Pemko Solok antar OPD. Sehingga, penjadwalan dan penggunaan ruangan rapat yang lebih maksimal dari yang sebelumnya kurang temanfaatkan.

Keenam, TERAS (Terminal Sehat) dari Puskesmas KTK. Inovasi tanpa biaya ini, dilaksanakan dengan menyediakan Pos Puskesmas Kecil di Terminal. Inovasi dilakukan untuk pemantauan awal atas penyakit generatif atau metabolik. Dari pelaksanaan inovasi ini, terdapat fakta rendahnya kunjungan masyarakat terminal berkunjung ke Puskesmas. Sehingga penyakit yang dialami masyarakat yang tidak teratasi sempurna, bisa ditanggilangi secara dini. Inovasi ini bersifat proaktif dengan mendatangi masyarakat ke terminal, adapun kemanfaatan inovasi ini adalah telah terpetakannya jenis penyakit di lingkungan.

Keenam, SALURAN AMAN (Satu Kelurahan Satu Taman) dari Kecamatan Tanjung Harapan. Inovasi ini bertujuan untuk menciptakan minimal satu taman pada setiap kelurahan. Program ini melibatkan partisipasi masyarakat dan swasta.

Ketujuh, ABANG MELAPOR (Aku Bangga Menjadi Sang Pelopor) dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana. Inovasi ini bertujuan untuk menurunkan pertumbuhan penduduk Kota Solok dengan memanfaatkan keluarga ASN sebagai kader KB. Pada prosesnya, dibuat PIN berbeda warna yang mengidentifikasikan perbedaan jumlah anak. Pin Merah menandakan keluarga tersebut punya 5 atau lebih anak, Pin Kuning menandakan keluarga tersebut punya 3‐4 anak, dan Pin Hijau menandakan keluarga tersebut punya kurang dari 3 anak. Inovasi ini juga memberikan reward sebesar Rp 200.000 untuk yang bersedia untuk dilakukan vasektomi dan Rp 150.000 untuk para kader.

Kedelapan, PAGAR WISATA (Pengembangan Nagari Mandiri Pangan Mendukung Agrowisata) dari Dinas Ketahanan Pangan. Inovasi ini dilaksanakan di Nagari Payo, dengan melibatkan lokal wisatawan domestik nagari. PAGAR WISATA mampu membuka potensi wisata baru yakni Agrowisata.

Kesepuluh, SCANDAL TALAK (Scan Dokumen Supaya Tidak Hilang) dari Bagian Organisasi Setda Kota Solok. Inovasi dengan melakukan Scan Dokumen Antisipasi Hilang. Sebelumnya, dokumen yang masuk pada bagian organisasi seringkali hilang bentuk dokumen fisiknya. Inovasi ini bermanfaat untuk menertibkan dan menyimpan riwayat dokumen dalam bentuk digital. (***)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply