Ada Insiden Politik di Final Minangkabau Cup

Ada Insiden Politik di Final Minangkabau Cup
Bachtul Bachtiar (kanan) bersama Ketua DPC PPP Kabupaten Solok Buya Sa'aduddin dan pemain Kubung usai Juara Minangkabau Cup Kabupaten Solok di Stadion Tuanku Tabing, Batu Batupang, Kotobaru, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sabtu (26/1).

“Insiden Politik” di Final Minangkabau Cup Kabupaten Solok

Politik dan Sepakbola Tak Terpisahkan

Apa hubungan sepakbola dengan politik? Sepakbola, jamak menjadi panggung politik. Ideologi berpolitik seringkali membonceng popularitas sepakbola. Partai final Minangkabau Cup tingkat Kabupaten Solok, menjadi bukti bahwa sepakbola dan politik tidak melulu bergerak harmonis. “Insiden politik”, tetap bisa terjadi.

Sepakbola adalah olahraga yang paling populer dan paling digemari di Kabupaten Solok, Sumbar, Indonesia, bahkan dunia. Helatan sepakbola sekecil apapun, selalu menjadi magnet bagi masyarakat. Hobi sepakbola, dianggap sebagai hobi para lelaki sejati. Seperti ungkapan; lelaki sejati hanya bicara tiga hal: politik, bisnis, dan sepakbola. Terbukti, ribuan pasang mata menghadiri setiap gelaran pertandingan sepakbola. Ini menjadi panggung bagi para politikus menuai simpati masyarakat. Sehingga, jamak terjadi, para top leader sepakbola diisi para tokoh-tokoh politik.

Perwakilan Asprov PSSI Sumbar Nofi Sastera (dua dari kanan) menyerahkan trofi dan hadiah untuk pemain terbaik Minangkabau Cup Sumbar 2019 Kabupaten Solok, Agung Wijaksana, didampingi Ketua Askab PSSI Kabupaten Solok Yulfadri Nurdin (tengah) dan Exco PSSI Kabupaten Solok Buya Sa’aduddin (paling kanan).

Tidak sulit menyebutkan nama orang-orang politik yang tenar karena sepakbola. Edy Rahmayadi, La Nyala Mattaliti, Nurdin Halid, Agum Gumelar, dan sederet nama lainnya yang dikenal seantero Indonesia karena kiprahnya memimpin Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Mereka aktif di politik. Di Sumbar PSSI dipimpin Indra Dt Rajo Lelo selama dua periode. Siapa Indra? Dia adalah Anggota DPRD Sumbar dari Partai Amanat Nasional (PAN) selama dua periode.

Bergerak ke daerah, PSSI Kabupaten Solok dipimpin oleh Yulfadri Nurdin, mantan politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang dua periode di DPRD Kabupaten Solok dan “setengah” periode di DPRD Sumbar, kini menjadi Wakil Bupati Solok. PSSI Kota Solok dijabat Reinier Dt Intan Batuah, sang Wakil Walikota Solok. Serta sederet Ketua PSSI daerah lainnya, yang dijabat oleh pejabat di daerahnya masing-masing.

Masyarakat Ranah Minang akan lebih mengenal Nilmaizar sebagai pemain Semen Padang FC, Pelatih Semen Padang FC, Pelatih Pusamania, Pelatih PS TIRA dan Pelatih Timnas Indonesia, dibanding kiprahnya di politik sebagai kader Partai Nasional Demokrat (NasDem), yang kini maju sebagai Caleg DPR RI dari Dapil Sumbar II. Hal yang sama saat warga dunia lebih kenal Pele, Kaka, Ronaldinho, Ronaldo, Neymar dan sederet bintang sepakbola Brazil lainnya, dibandingkan Presiden Brazil. 

Momentum Turnamen Minangkabau Cup II di Kabupaten Solok menjadi panggung tertinggi persisian sepakbola dan politik di Bumi Markisa. Apalagi, waktu turnamen hanya hitungan bulan sebelum Pemilu Legislatif dan Pilpres 17 April 2019. Turnamen sepakbola kolosal yang diikuti seluruh kecamatan di Sumbar tersebut, di Kabupaten Solok, terlaksana setelah Askab PSSI Kabupaten Solok terbentuk pada akhir tahun 2018. Ketua dijabat Yulfadri Nurdin, Sekretaris dijabat Alfis Primatra, Caleg DPRD Kabupaten Solok Dapil I dari PPP. Bendahara dijabat Jon Firman Pandu, Ketua Partai Gerindra yang juga mencaleg dari Dapil III Kabupaten Solok. Executif Commite (Exco) juga diisi para ketua partai. Seperti Buya Sa’aduddin, Ketua DPC PPP Kabupaten Solok dan Mukhlis Dt Gampo Malangik, Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Solok.

Minangkabau Cup menjadi semacam oase di gurun pasir bagi masyarakat Kabupaten Solok. Pasalnya, sepakbola Kabupaten Solok absen dalam helatan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumbar di Kabupaten Padang Pariaman. Yang menyesakkan, saudara mudanya, Kabupaten Solok Selatan, tampil di final sepakbola Porprov. Anomali dan ironi semakin lengkap karena Solok FC, klub profesional pertama dari Solok (Kota Solok, Kabupaten Solok dan Solok Selatan), melaju ke putaran 16 besar Nasional Liga 3 PSSI.

Minangkabau Cup Kabupaten Solok dibagi menjadi empat zona. Juara dan runner up masing-masing zona lolos ke 8 besar. Partai semifinal diisi Kecamatan Kubung, Bukit Sundi, Junjung Sirih dan Hiliran Gumanti. Komposisi yang pas, jika melihat komposisi pemain masing-masing tim, wakil dari 4 zona dan sejarah sepakbola yang dimiliki.

Kubung di luar prediksi, kesulitan saat menghadapi Hiliran Gumanti. Meski akhirnya berhasil menang dengan skor tipis 2-1. Junjung Sirih memupus asa talenta-talenta Bukit Sundi berkat kekuatan mental mereka. Tim asuhan Febri tersebut menang dengan skor “dewasa” 4-0 di babak adu penalti. Di perebutan juara 3, Bukit Sundi menang 1-0 dan menjadi salah satu wakil Kabupaten Solok ke Minangkabau Cup tingkat Sumbar.

Laga final antara Kubung dan Junjung Sirih menjadi pertarungan talenta brilian Kubung dan kekuatan mental yang dimiliki Junjung Sirih. Kubung akhirnya menang 1-0 dalam laga yang berlangsung penuh emosi, menguras tenaga dan penuh atraksi dari kedua tim. Manajer Kubung, Jerzi Pafiliusco mengaku bersyukur, sementara pelatih Junjung Sirih, Febri, menyebut timnya tidak beruntung.

Bachtul Bachtiar (kanan) bersama Ketua DPC PPP Kabupaten Solok Buya Sa’aduddin dan pemain Kubung usai Juara Minangkabau Cup Kabupaten Solok di Stadion Tuanku Tabing, Batu Batupang, Kotobaru, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sabtu (26/1).

Pada seremoni penyerahan piala dan hadiah untuk tim juara, pemain terbaik dan topskorer, terjadi insiden memalukan. Bukan insiden sepakbola, tapi insiden politik! Tokoh Masyarakat Kabupaten Solok, Bachtul Bachtiar, yang sejak awal laga, duduk di tribun kehormatan, tidak kebagian menyerahkan salah satu trofi kepada pemenang. Nama Bachtul tiba-tiba hilang dari daftar tokoh yang akan menyerahkan trofi kepada para pemenang. Padahal, sebelumnya panitia pelaksana sudah menyiapkan namanya untuk penyerahan trofi pemain terbaik turnamen dan topskorer.

Penyerahan gelar pemain terbaik dan topskorer akhirnya dilakukan oleh Nofi Sastera, Sekretaris Minangkabau Cup Sumbar. Sejatinya, wartawan olahraga senior Sumbar tersebut sebelumnya dipersiapkan menyerahkan trofi juara kedua untuk tim Junjung Sirih. Trofi untuk Junjung Sirih akhirnya diserahkan oleh Ganefardi, Wakil Bendahara Minangkabau Cup Sumbar. Trofi juara ketiga diserahkan Buya Sa’aduddin dan juara pertama diserahkan Ketua Askab PSSI Kabupaten Solok Yulfadri Nurdin.

Mengenai hilangnya nama Bachtul dari prosesi penyerahan trofi, Bachtul mengaku tidak kecewa dan tidak masalah. Menurut Anggota DPRD Sumbar dua periode dari dua partai berbeda (2004-2009 dari Partai Amanat Nasional, 2009-2014 dari Partai Bintang Reformasi) asal Kabupaten Solok tersebut, tidak mau menyalahkan siapapun. Menurut politikus ulung Kabupaten Solok yang pernah menjadi Caleg DPR RI dari Partai Nasdem di Pileg 2014 dan calon Wakil Bupati di Pilkada Kabupaten Solok 2015 lalu, hal itu sudah biasa dalam politik.

“Tidak masalah kok. Itu sudah biasa dan saya sangat memahaminya. Namun, seharusnya kita menghargai panitia dan tidak boleh intervensi tentang siapa orang yang ditunjuk untuk tampil menyerahkan hadiah. Serta tidak boleh semena-mena,” ungkapnya.

Sejumlah panitia menyebutkan nama Bachtul menghilang diduga karena ada intervensi. Menurut panitia yang enggan disebutkan namanya tersebut, karena ada nama Athari Gauthi Ardi dalam daftar sponsor turnamen. Athari yang merupakan anak dari Capt Epyardi Asda tersebut, maju sebagai Caleg DPR RI dari Partai Amanat Nasional (PAN) Dapil Sumbar 1. Satu Dapil dengan Bachtul yang maju dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Athari dan Epyardi merupakan orang dekat Wakil Bupati Yulfadri Nurdin sejak masih sama-sama di PPP.

“Kita ingin para caleg yang maju, baik ke DPRD Kabupaten hingga nasional, bisa bersaing secara sehat dan fair dan serahkanlah pilihan ke masyarakat. Tidak melakukan politik belah bambu, dimana yang satu diinjak dan satu diangkat. Silahkan hidupkan lampu kita,  tetapi jangan matikan lampu orang lain. Itu sama saja fitnah dan lebih kejam dari pembunuhan. Kalau Tuhan berkehendak dan kalau suratan kita yang akan dipilih, saya rasa tidak ada satu kekuatanpun yang bisa melarang,” ujarnya.

Ditambahkan Bachtul, dengan telah  ditetapkannya Daftar Calon Tetap asal Sumbar, maka para caleg Kabupaten, provinsi dan nasional secara yuridis formal sudah bisa memulai kampanye dan bersosialisasi kepada masyarakat di daerah pemilihannya. Yakni melalui cara yang sesuai undang-undang seperti media cetak/elektronik, media sosial, sidang umum, tata muka, dan lain-lain.

“Namun berkampanye tentu harus dengan sopan dan tidak saling menjatuhkan,” harapnya. (rijal islamy)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply