Mobil Bergambar Caleg Gerindra Ditangkap karena Kasus Shabu, Ini Klarifikasi Pemilik Mobil

Mobil Bergambar Caleg Gerindra Ditangkap karena Kasus Shabu, Ini Klarifikasi Pemilik Mobil

SOLOK SELATAN – Terkait hebohnya penangkapan pelaku Narkoba di Nagari Surian, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Solok, pada Senin, 7 Januari lalu, dan press release Polres Arosuka pada Rabu (23/1), Mario Syahjohan akhirnya angkat bicara. Mario Syahjohan menggelar konferensi pers di Solok Selatan pada Kamis (24/1). Kader Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) asal Kabupaten Solok Selatan itu, membantah jika tersangka Afriyon Doni (AD) alias Kaliang sebagai tim sukses atau kader Partai Gerindra. Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Solok Selatan dan Ketua Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Kabupaten Solok Selatan itu, menegaskan dirinya anti Narkoba dan memastikan dirinya tidak terlibat dalam kasus Narkoba jenis shabu yang diungkap Polres Arosuka.

“Kami pastikan, kami tidak terlibat kasus tersebut. Tersangka AD merupakan teman lama. Tapi bukan kader atau tim sukses. Karena jika  kader ataupun tim sukses tentunya memiliki legalitas melalui Surat Keputusan (SK). Demikian juga dengan Taufik yang meminjam mobil, maupun pelaku, juga bukan untuk acara partai,” ungkapnya.

Mario Syahjohan

Mario juga menegaskan, sebagai generasi muda, haram baginya menyentuh narkoba dan sudah menjadi komitmennya memerangi narkoba. Sejak 2016, Mario telah menjadi Ketua Granat Kabupaten Solok Selatan.  Solsel). Mario juga menuturkan, selama ini dirinya aktif melakukan sosialisasi anti narkoba secara persuasif terutama kalangan milenial. Secara pribadi, dirinya juga berusaha maksimal untuk menjalankan pola hidup sehat.

“Kita apresiasi kinerja Polres Arosuka dalam pengungkapan kasus ini. Dengan kerjasama dengan Kepolisian dan Badan Narkotika Daerah, saya senantiasa mengarahkan generasi muda untuk melakukan kegiatan positif dalam bidang olahraga supaya waktunya efektif dengan kegiatan positif dan terhindar dari pengaruh Narkoba. Tiap Jumat malam itu saya selalu rutin melakukan olahraga, seperti futsal, untuk kesehatan pribadi, juga memberikan motivasi bagi generasi muda,” sebutnya. 

Terkait mobil hardtop yang dipinjam pelaku AD, Mario menjelaskan bahwa mobil itu adalah mobil kakaknya, Armen Syahjohan, bukan miliknya. Mario juga mengharapkan, masyarakat untuk fokus pada kasusnya jangan pada mobilnya. Menurutnya, di tahun politik ini, masyarakat diminta lebih jeli melihat isu politik.

“Kita harapkan masyarakat bisa memilah. Yakni filter dulu setiap informasi yang beredar di Medsos. Agar tidak terjebak isu. Ini juga menjadi pelajaran bagi kami ke depannya. Yakni lebih berhati-hati meminjamkan milik pribadi pada orang lain,” katanya.

Mario juga mengakui, sampai saat ini dirinya maupun kakaknya, Armen Syahjohan belum pernah dimintai keterangan secara tertulis dari pihak Kepolisian.

“Jika memang terlibat tentunya saya diproses sejak waktu kejadian itu,” katanya.

Mario juga menegaskan, saat peristiwa penangkapan paket narkoba pada 7 Januari lalu, dirinya sedang berada di Lubuk Malako, Sangir Jujuan, Kabupaten Solok Selatan. Sedangkan Armen Syahjohan tengah rapat Paripurna Istimewa DPRD Solsel dalam rangka HUT ke-15 Solsel.

Armen Syahjohan

Sementara itu, Armen Syahjohan mengakui jika mobil yang ditangkap petugas Polres Arosuka jenis Toyota hardtop itu, adalah miliknya. Armen menyatakan dirinya bersama Mario, mengambil hikmah positif dari peristiwa ini. Armen juga menegaskan dirinya sangat anti Narkoba dan berkomitmen kuat untuk menjaga pola hidup sehat.

“Mobil hardtop itu milik saya. Tapi, saya pastikan, kami tidak terlibat dengan kasus narkoba tersebut. Jangankan narkoba, merokok pun saya sudah tidak lagi. Saya tegaskan, terkait bukan berarti terlibat. Kami ucapkan banyak terimakasih pada teman-teman media yang memberitakan kasus ini. Kami ambil hikmahnya. Positifnya, saya dan Mario Syahjohan dapat iklan gratis,” ungkapnya.

Sebelumnya, Jajaran Polres Solok Arosuka menggelar press release terkait pengungkapan kasus Narkoba di wilayah hukumnya, Rabu (23/1) di Mapolres Arosuka. Salah satu barang bukti, berupa satu unit mobil operasional milik calon anggota legislatif (Caleg) DPRD Sumbar, Mario Syahjohan (akhirnya dikonfirmasi sebagai milik Armen Syahjohan,red) dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Mobil jenis hardtop tersebut, terlihat kontras dengan foto, nama dan logo partai caleg asal Solok Selatan tersebut. Di bagian kiri mobil, juga terdapat gambar Wakil Ketua DPRD Solok Selatan, Armen Syahjohan. 

Terkaitnya nama Mario Syahjohan dan Armen Syahjohan dalam kasus tersebut, cukup membuat miris. Pasalnya, Mario merupakan Ketua Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Solok Selatan, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Solok Selatan. Sementara Armen yang merupakan kakak kandung Mario, merupakan Wakil Ketua DPRD Solok Selatan.

Kapolres Arosuka AKBP Ferry Irawan, didampingi Wakapolres Kompol Frangky, Kasat Narkoba Iptu Eko Kurniawan dan sejumlah perwira lainnya, menyatakan selain satu unit mobil operasional tersebut, jajarannya juga mengamankan barang bukti berupa dua gram shabu dan tujuh paket ganja. Barang bukti ini berasal dari pengungkapan lima kasus dan diamankan sebanyak enam tersangka. 

Penangkapan mobil yang dibranding dengan nama caleg Gerindra Mario Syahjohan asal Solok Selatan itu, diduga digunakan untuk mengedarkan sabu oleh tersangka Afriyon Doni alias Kaliang (41) warga Nagari Surian pada Senin (7/1). Dari tangan tersangka, diamankan 13 paket kecil shabu dan satu unit mobil jenis Hardtop dengan nopol BA 1007 YB.

“Saat penangkapan di daerah Ladang Padi Nagari Surian, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Solok, tersangka Afriyon Doni sempat mengelak. Namun, setelah barang bukti didapat, tersangka mengakuinya, dan mobil yang dikendarai tersangka tersebut milik salah seorang anggota DPRD Solok Selatan,” ungkapnya.

Terkait adanya kemungkinan keterlibatan Mario Syahjohan dan Armen Syahjohan, AKBP Ferry Irawan menyatakan pihaknya masih mendalami kasus tersebut. Tersangka diancam dengan pasal berlapis yaitu pasal 112, 114 dan 127 undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

“Ancaman pidananya, maksimal penjara seumur hidup dan minimal lima tahun,” ungkapnya. (*/PN-001)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply