Tertipu Lebih Setengah Miliar, Hidup Welli Astuti Berantakan

Tertipu Lebih Setengah Miliar, Hidup Welli Astuti Berantakan

Ditipu Janda Muda Rp 563 Juta, Hidup Welli Astuti Berantakan

* Dibenci Banyak Orang, Ayah Meninggalpun Tak Mau Melayat

NASIB tragis menimpa Welli Astuti (45), warga Jalan Syech Kukut No.67, Kelurahan Tanjung Paku, Kecamatan Tanjung Harapan, Kota Solok. Diiming-imingi keuntungan ratusan juta rupiah dari proyek PLTU Palembang Timur pada 2018, Welli Astuti justru ditipu Farizah Rahmida (32), warga Jalan Tapian Lapung No.66, Kelurahan Tanah Garam, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok. Jumlahnya tak main-main Rp 563 juta.

Kasus ini, membuat hidup Welli berantakan, karena uang sebanyak Rp 563 juta itu, berasal dari kredit BRI Cabang Solok sebesar Rp 150 juta dan pinjaman kepada 7 koleganya dengan jumlah bervariasi, antara Rp 30 juta hingga Rp 70 juta. Karena tak punya uang lagi, kreditnya di BRI Cabang Solok menjadi macet. Di samping itu, Welli juga terbelit utang ratusan juta rupiah karena para koleganya juga terus menagih pinjaman. Untuk menutupinya, Welli terpaksa menjual sejumlah aset seperti mobil dan menggadaikan rumahnya. Kini Welli sudah meninggalkan rumah dan keluarganya selama lebih 5 bulan belakangan dan hidup berpindah-pindah dan mengharapkan belas kasihan kawan-kawan lamanya. Tekanan utang itu, membuat pribadi Welli berubah 180 derajat. Dia membenci orang-orang dekatnya, bahkan keluarganya sendiri. Hingga, saat ayah kandungnya meninggal dunia pada 29 Oktober 2018 lalu, Welli tidak mau datang melayat. 

Dalam aksinya, Farizah Rahmida terbilang sangat elegan dan rapi. Berbekal wajah dan penampilan yang menarik simpati, mantan pegawai Bank Rakyat Indonesia (BRI) Koppo, Bojong Loa Kaler, Kota Bandung, Jawa Barat, tersebut mempedaya Welli hingga mau “berinvestasi” sebesar Rp 563 juta di proyek PLTU di Palembang Timur. Namun, janji pengembalian pinjaman beserta bagi laba proyek tak kunjung terealisasi.

Pertemuan Welli dan Farizah bermula pada Senin, 16 Mei 2016 di Kantor BRI Cabang Solok sekira pukul 10.00 WIB. Dalam pertemuan itu, Farizah menuturkan dirinya mendapat proyek pembuatan dam dan pemasangan keramik dengan nilai Rp 3 miliar pada periode Mei-Agustus 2016 di PLTU Palembang Timur, Sumatera Selatan. Namun Farizah mengaku kekurangan dana. Jika Welli bisa mencarikan dana sekitar Rp 563 juta, Farizah menjanjikan bagi laba proyek sebesar Rp 300 juta, pada Agustus 2016 Tertarik dengan hal itu, Welli kemudian menjanjikan akan mencarikan pinjaman.

Pada Kamis, 19 Mei 2016, Welli menyerahkan dana tunai Rp 563 juta dengan perjanjian di atas materai. Penyerahan dilakukan dua termen. Yakni pinjaman Rp 250 juta, akan dikembalikan pada 27 Juni 2016, dan pinjaman Rp 313 juta akan dikembalikan pada 20 Agustus 2016.

Namun, setelah waktu yang disepakati dalam surat perjanjian tersebut tiba, Farizah tidak lagi berada di Kota Solok. Hubungan antara Welli dan Farizah hanya melalui sambungan telepon. Dalam pembicaraan di telepon itu, Farizah terus mengulur waktu. Bahkan, Farizah menyarankan Welli untuk meminjam uang ke keluarga atau rekan-rekannya menjelang uangnya cair.

Tak punya uang dan berutang ke sejumlah teman sejawat, pribadi Welli berubah 180 derajat. Welli menjadi pemarah, pendiam, stres dan jarang masuk kantor. Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gabungan Pekerja Konstruksi Indonesia (Gapeksindo) Kota Solok dan Kontraktor CV Lima Pilar, mendapat imbas negatif paling besar. Di DPC Gapeksindo Kota Solok, Welli menjabat posisi sentral sebagai Sekretaris Eksekutif. Sementara di CV Lima Pilar, Welli menjabat sebagai salah satu Direktris.

Tak bisa lagi memanfaatkan keandalan Welli dalam administrasi dan surat menyurat, membuat aktivitas DPC Gapeksindo dan CV Lima Pilar lumpuh total. Akhirnya, Ketua Dewan Pertimbangan DPC Gapeksindo Kota Solok, Yazid Kasim, turun tangan dan menguak permasalahan Welli pada 16 Juli 2018. Bahkan, Yazid Kasim termasuk dalam daftar 7 orang yang memberikan pinjaman ke Welli. Yakni sebesar Rp 35 juta. Kepada Yazid, Welli juga mengaku tak sanggup lagi menyelesaikan permasalahan dan menanggung tekanan seperti ini. Akhirnya, disepakati solusi bahwa Yazid Kasim diberi kuasa menagih uang yang dipinjamkan ke Farizah dan menjalankan proses penagihan secara hukum. 

Yazid Kasim (75) akhirnya melaporkan hal ini ke Polres Solok Kota pada 30 Juli 2018. Dengan Surat Tanda Penerimaan Laporan: STPL/172/B-1/VII/2018/Polres Solok Kota ditandatangani oleh Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) III, Ipda Wendreyzar Vetra. Laporan ini, langsung ditanggapi cepat Satuan Reserse dan Kriminal (Sat Reskrim) Polres Solok Kota dengan memanggil para saksi dan mengumpulkan bahan-bahan keterangan. Tak lama berselang, Farizah Rahmida, berhasil diringkus jajaran Polda Sumbar di Kota Bandung, Jawa Barat. Farizah akhirnya menjadi tahanan Polda Sumbar.

“Kami sangat mengapresiasi respons cepat kepolisian dalam mengungkap kasus ini. Sehingga, pelaku yang sebelumnya tidak diketahui keberadaannya, ternyata bisa ditangkap dalam waktu sangat cepat,” ungkapnya.

Penangkapan Farizah oleh Polda Sumbar, mengungkap fakta baru. Ternyata, Farizah juga menjadi pelaku pembobolan kredit di Bank BRI Unit Pasaraya, Kota Solok sebesar Rp 500 juta. Sehingga, menjadi buronan Polda Sumbar dan dijerat UU Perbankan. Pemeriksaan bersama Polda Sumbar dan Sat Reskrim Polres Solok Kota, juga mengungkap pengakuan berbeda dari Farizah. Janda beranak satu ini tidak mengakui meminjam uang sebesar Rp 563 juta dari Welli, tapi hanya Rp 200 juta. Uang Rp 200 juta tersebut, digunakan Farizah untuk mengangsur kredit macetnya di BRI Unit Pasaraya Solok.

Dalam pengembangan kasus, Sat Reskrim Polres Solok Kota juga melakukan pemeriksaan terhadap orang tua terlapor, yang beralamat di Jalan Tapian Lapung No.66, Kelurahan Tanah Garam, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok. Sementara itu, penahanan Farizah saat ini sudah dipindah dari tahanan Polda Sumbar ke tahanan Polres Solok Kota dan saat ini mendekam di Lapas Kelas II.B Laing, Kota Solok. Farizah dijerat KUHP pasal 378 tentang penipuan, dengan ancaman pidana empat tahun penjara.

Sebelumnya, Orang tua terlapor, yang merupakan pensiunan di Dinas Pertanian Kota Solok, mengaku berniat menjual rumahnya untuk melunasi utang Farizah. Namun, tidak jadi karena baru ditawar calon pembeli Rp 400 juta, sementara dirinya mematok harga Rp 500 juta.

“Kita berharap kasus ini segera tuntas. Sekaligus bisa mengembalikan nama baik Welli. Serta Welli kembali bisa kembali beraktivitas seperti dulu lagi. Sebab, hingga saat ini, keberadaan Welli tidak diketahui, karena kabarnya hidup berpindah-pindah dari satu rumah teman ke rumah teman lainnya,” harap Yazid Kasim. (rijal islamy)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply