Tukiman, Menjawab Isu dan Memantapkan Diri ke DPD RI

Tukiman, Menjawab Isu dan Memantapkan Diri ke DPD RI

PADANG – Calon Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) asal Sumbar, Tukiman, terus mendapat dukungan penuh dari tokoh adat, tokoh agama dan tokoh politik Sumbar. Calon senator yang lahir dan besar di Pasaman Barat dan menjadi urang Sumando di Sungai Janiah, Kabupaten Solok tersebut, diyakini akan melenggang ke senayan. Meski berbagai fitnah, isu dan hoax terkait dirinya terus diluncurkan lawan-lawan politik dan elemen yang tidak senang terhadap dirinya, Tukiman tetap tenang dan menganggap hal itu sebagai bagian dari perjalanan politik. Menurutnya, hal itu merupakan bumbu dan

“Hal yang biasa. Tidak ada perjalanan yang mudah, apalagi perjalanan politik. Itu adalah bagian dari pendewasaan diri. Yang terpenting, masyarakat lah yang akan menilai dan menentukan pilihannya. Ujaran kebencian (hate speech) dan kabar bohong (hoax) adalah tantangan yang harus dihadang,” ujarnya.

Tukiman bersama Anggota DPD RI Nofi Candra.

Sebelumnya, Tukiman dituding terlibat korupsi dana nagari di Sungai Janiah, Kabupaten Solok. Tudingan tersebut sempat membuat nama Tukiman dengan jargon “Anak Desa untuk DPD RI” tercoreng. Bahkan, berbagai isu negatif terhadap dirinya terus berhembus. Seperti sudah dipenjara, sudah ditahan polisi, bahkan dikatakan sudah meninggal dunia. Namun, berbagai isu dan fitnah tersebut terjawab seiring berjalannya waktu.

“Beberapa waktu lalu, Polres Solok Arosuka mengeluarkan komentar bahwa dalam kasus dana nagari Sungai Janiah, saya hanya dimintai keterangan atau klarifikasi. Hal ini disampaikan langsung oleh Kapolres Arosuka melalui penyidik Bripka Roni Saputra. Karen itu, dari lubuk hati yang paling dalam, kami meminta agar di masa tenang nanti, mari kita hindari isu, hoax dan fitnah. Sehingga, Pemilu serentak 17 April 2019 menjadi pesta demokrasi yang menyejukkan dan membawa negeri ini, daerah dan masyarakat ke arah dan kondisi yang lebih baik,” ujarnya.

Tukiman bersama tokoh masyarakat Dharmasraya dan Bupati Sutan Riska Tuanku Kerajaan.

Dalam perjalanan politiknya mengunjungi seluruh daerah di Sumbar, selain masyarakat akar rumput yang menaruh harapan tinggi terhadap dirinya, Tukiman juga diterima dengan tangan terbuka oleh berbagai tokoh adat, tokoh agama, tokoh politik dan berbagai kepala daerah se-Sumbar. Seperti Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan, Wakil Bupati Pasbar Yulianto, Wakil Walikota Solok Reinier, Wakil Bupati Sijunjung Arrival Boy, Wakil Bupati Solok Selatan Abdul Rahman, mantan Wakil Bupati Dharmasraya Tugimin. Bahkan, harapan dalam perbedaan juga ditumpangkan para “golongan minoritas” di Sumbar seperti komunitas Sunda, Batak, Nias dan elemen masyarakat lainnya.

“Alhamdulillah. Lika-liku dalam perjalanan politik selama menjadi calon anggota DPD RI ini, mengajarkan saya satu hal. Yakni, jangan pernah melupakan orang-orang dan elemen yang menumpangkan harapannya kepada politisi untuk masa depan yang lebih baik. Insyaallah, dengan ketetapan hati dan tahan terhadap guncangan, akan memberikan hasil yang terbaik,” harap pria yang juga pernah jadi kernet bus ini.

Tukiman bersama Wakil Bupati Solok Selatan, Abdul Rahman.

Beberapa waktu lalu, politikus senior Sumbar, Syamsu Rahim, bertemu dengan calon Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI), Tukiman, di Rumah Makan Suaso, Komplek GOR H Agus Salim, Kota Padang, Kamis (25/10). Pertemuan secara tidak sengaja tersebut, juga dihadiri Caleg DPR RI Partai NasDem Dapil 2 Hasbullah, pemuda Solok Saiyo Sakato (S3), pengurus Budi Tzuchi Sumbar, kader Muhammadiyah Sumbar, dan elemen lainnya. Ketua Dewan Pertimbangan DPW Partai NasDem Sumbar Syamsu Rahim menyatakan dirinya sangat senang dengan pertemuan tersebut. 

Mantan Ketua DPRD Sawahlunto, Walikota Solok dan Bupati Solok tersebut, menyatakan figur Tukiman sebagai Sumando Solok, memiliki konsep yang sangat baik. Terutama dalam konsep mendudukkan konsep pemerintahan terendah di tingkat jorong. Menurutnya, dukungan yang terus mengalir kepada calon DPD RI Tukiman, didasarkan pada konsep yang ditawarkan Tukiman untuk maju menjadi senator dari Sumbar.

“Survey untuk DPD RI Sumbar, Tukiman, menempati posisi tertinggi. Hal ini, tidak terlepas konsep dan sentuhan yang ditawarkan. Di samping itu, Tukiman, memiliki basis suara yang sangat jelas. Yakni warga keturunan Jawa dan etnis lainnya. Kita siap bekerja sama dan saling mendukung untuk memperjuangkan kesejahteraan masyarakat Sumbar,” ujarnya.

Tukiman bersama Wakil Walikota Solok Reinier Dt Intan Batuah.

Syamsu Rahim juga menegaskan DPD RI merupakan wakil daerah di pusat. Sementara DPR RI adalah wakil rakyat Sumbar. Kedua elemen tersebut memiliki niat dan kewajiban yang sama, untuk memajukan masyarakat dan daerah Sumbar. Sehingga, dengan kolaborasi tersebut, DPR RI dan DPD RI harus saling mendukung.

“Tugas DPR RI dan DPD RI memang berbeda, tapi tujuannya sama. Yakni menjadi wakil Sumbar untuk merancang regulasi sesuai kebutuhan daerah. Saat ini, Minangkabau dalam kondisi terpuruk. Tidak ada pucuak undang dan payung panji di nagari. Hal ini, tidak terlepas dari konsep adat yang ditinggalkan. Minangkabau adalah daerah yang sangat menghargai etnis, agama, budaya dan kemasyarakatan. Karena itu, hadirnya Tukiman sebagai Sumando Urang Solok dan Minangkabau, merupakan harapan baru. Kita tidak lagi menganggap Tukiman sebagai orang lain, tapi sudah keluarga kami, karena adalah sumando kami,” tegasnya.

Tukiman bersama mantan Wakil Bupati Dharmasraya Tugimin.

Calon DPD RI Tukiman memperkenalkan dirinya berikut dengan konsepnya maju ke DPD RI. Menurut Tukiman, dirinya memutuskan maju ke DPD RI, setelah dirinya berkeliling ke seluruh Indonesia dan seluruh Sumatera Barat sebagai Ketua Garda Desa se-Indonesia. Dari perjalanan itu, Tukiman memaparkan bahwa selama ini, Sumbar sangat dirugikan dengan konsekuensi Undang-Undang Desa Tahun 2014. Dengan memiliki 942 nagari sebagai nama lain desa, setiap nagari mendapatkan dana desa Rp 1 miliar. Sementara Aceh dengan konsep penamaan gampong sebagai nama lain desa, mendapatkan Rp 6,8 triliun. Padahal, gampong di Aceh, sama dengan jorong di Sumbar.

“Konsep saya adalah mengembalikan pemerintahan terendah ke tingkat jorong. Dengan tidak meninggalkan identitas nagari sebagai jati diri masyarakat adat. Pemerintahan terendah di tingkat jorong, pemerintahan adat di urus nagari dengan mengedepankan peran niniak mamak, bundo kandung, pemuda dan elemen masyarakat nagari,” ungkapnya.

Tukiman bersama Wakil Bupati Pasaman Barat Yulianto.

Siapa Tukiman?

Nama Tukiman bagi sebagian masyarakat Sumbar masih terdengar asing. Hal yang lumrah, karena pria kelahiran 5 Juli 1981 tersebut, selama ini fokus menjadi petani bawang di Nagari Sungai Janiah, Kabupaten Solok dan mengurus perkebunan sawitnya di Pasaman Barat. Namun, pria keturunan Jawa, kelahiran Desa Baru Pasaman Barat dan menjadi sumando di Nagari Sungai Janiah Kabupaten Solok tersebut, adalah Ketua Umum Garda Desa Indonesia. Sebuah organisasi yang fokus pada peningkatan potensi dan ekonomi desa/nagari/jorong.

“Garda Desa Indonesia fokus pada pembangunan ekonomi berbasis produk desa. Terutama produk unggulan yang diharapkan mampu bersaing baik di tingkat lokal, regional dan internasional,” ujar Ayah lima anak ini.

Pilihannya ke DPD RI, di hidupnya yang terbilang sangat mapan, Tukiman menyatakan hal itu tidak lebih untuk misinya menguatkan peran masyarakat desa, nagari dan jorong. Salah satunya adalah bagaimana mengembalikan kedudukan jorong secara administratif dan hak, sama seperti desa. Tukiman menyatakan, saat ini dengan menyamakan nagari sebagai desa, masyarakat Sumbar banyak dirugikan. Salah satunya dalam Alokasi Dana Desa (ADD), penyamaan nagari dengan desa, membuat alokasi tidak adil.

“Saya memilih DPD, karena posisinya yang independen. Walaupun fungsi DPD saat ini dinilai berbagai pihak belum maksimal, namun ke depan, tentu akan ada penguatan. DPD tentu tidak bisa disamakan haknya dengan DPR, karena DPD ditujukan sebagai sarana perjuangan daerah. Misalnya tentang perjuangan memaksimalkan potensi daerah. Tentu saja DPD punya saluran untuk memperjuangkan adanya regulasi, agar potensi di daerah bisa maksimal,” ungkapnya. 

Tentang identitasnya yang keturunan suku Jawa, di Sumbar yang mayoritas Minangkabau, Tukiman menegaskan hal itu bukanlah sebuah kekurangan. Pria yang merupakan “Sumando” di Nagari Sungai Janiah, Kabupaten Solok itu, justru menilainya sebuah kelebihan. Menurutnya, keturunan suku Jawa adalah suku terbanyak kedua, yang tersebar di seluruh wilayah. Ditambah lagi statusnya yang merupakan Urang Sumando, Tukiman meyakini elektabilitas (keterpilihan) dirinya semakin tinggi.

“Selama ini, antara Suku Jawa dengan Suku Minang, serta suku-suku lain di Sumbar ini, telah hidup berdampingan dengan rukun dan saling mendukung. Warna-warni itu lah yang membuat kita bisa maju dan berkembang maksimal,” ujarnya.

Tukiman saat berkunjung ke Solok Selatan.

Dengan tagline “Anak Desa Untuk DPD RI”, Tukiman optimistis dirinya akan mampu bersaing dan meraup suara yang cukup, untuk meraih satu kursi dan alokasi empat kursi DPD RI asal Sumbar. Tidak hanya dari kantong-kantong suara di daerah yang didiami keturunan Suku Jawa, tapi di seluruh daerah di Sumbar.

“Saya putra Pasaman, Sumando Rang Solok, Suku Jawa, tapi sesuai pepatah dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, saya berbuat dan berjuang untuk Sumatera Barat,” tegasnya. (rijal islamy)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply