Buah Loyalitas Anak Rang Malayu Nan Barampek Koto Panjang

Buah Loyalitas Anak Rang Malayu Nan Barampek Koto Panjang

Profil Politisi, Hendra Saputra, SH
* Buah Loyalitas Anak Rang Malayu Nan Barampek Koto Panjang

Hendra Saputra menjadi salah satu contoh loyalitas dalam berpartai. Anggota DPRD Kota Solok dari Partai Bulan Bintang (PBB) itu, menjalani periode kedua menjadi wakil rakyat di Kota Beras Serambi Madinah. Meski pada 2013, PBB sempat dinyatakan tidak lolos menjadi peserta Pemilu 2014, Hendra memilih setia di PBB dan tidak berupaya “loncat pagar” ke partai lain. Hal serupa kembali terulang di 2019, PBB awalnya kembali dinyatakan tidak lolos. Namun, kepiawaian sang Ketua Umum PBB, Yusril Ihza Mahendra, PBB akhirnya lolos di detik-detik akhir.

Laporan RIJAL ISLAMY, Solok

Pada pemilihan legislatif (Pileg) tahun 2009, Hendra Saputra menggebrak saat dirinya terpilih dan menjadi anggota dewan termuda (27 tahun). Hendra mengumpulkan 326 suara di daerah pemilihan (Dapil) Tanjung Harapan. Saat itu, tak seorang pun mengira, suara putra Kampung Melayu, Koto Panjang tersebut bakal mencuat. Pasalnya, di daerah yang dijuluki “Texas”-nya Kota Solok itu, adalah basis suara politikus “beken” dan beberapa di antaranya saat itu adalah incumbent. Namun, berbekal kedekatannya dengan masyarakat, terutama pemuda dan insan olahraga di Kota Solok, Hendra akhirnya terpilih. 

Pada tahun 2013, atau beberapa bulan menjelang Pileg 2014, Partai Bulan Bintang di tingkat pusat diterpa “badai”. Partai besutan Prof Yusril Ihza Mahendra itu, dinyatakan tidak lolos menjadi peserta Pemilu. Kenyataan ini membuat loyalitas kader, dari pusat hingga ke tingkat daerah, diuji. Tidak sedikit para kader, bahkan anggota dewan yang “menyeberang” ke partai lain, agar tetap bisa mencaleg. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Hendra Saputra. Dia memilih bertahan dan menunjukkan kesetiaan. Hal itu berbuah manis, karena di Pileg 2014, suaranya malah melejit menjadi 550 suara.

“Jika pada 2013 itu PBB tetap dinyatakan tidak lolos menjadi peserta Pemilu 2014, saya lebih memilih untuk tidak mencaleg, daripada harus pindah ke partai lain. Tapi, di sisi lain, kami, para kader PBB juga memiliki keyakinan bahwa Bang Yusril (Yusril Ihza Mahendra), sebagai pakar hukum tata negara, bisa menuntaskan hal ini. Bahkan, masyarakat yang menjadi pemilih pun, tidak terpengaruh. Hal itu terbukti suara saya dan suara partai di Pileg 2014 justru naik. Hal serupa juga terjadi di Pileg 2019. PBB juga awalnya dinyatakan tidak lolos. Kemarin, loyalitas saya kembali diuji. Namun, komitmen saya tetap. Lebih baik tidak mencaleg, daripada harus pindah ke partai lain,” ungkapnya. 

Memilih bergabung di PBB, bagi Hendra tidak terlepas dari latar belakang historis dan sosiologis Kota Solok dan Sumbar. Yakni, sebagai basis dari Partai Masyumi dulunya. Dan PBB sebagai “anak kandung” Masyumi, memiliki basis massa yang luar biasa besar di Kota Solok.

Sebelum menjadi Anggota DPRD Kota Solok, Hendra Saputra dikenal di bidang pendidikan dan dunia olahraga. Sebelumnya, dirinya pernah menjadi staf pengajar di Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK) Kosgoro Solok. Sementara di bidang olahraga, khususnya di cabang bola basket, mantan atlet ini menjadi penggerak olahraga di Kota Solok untuk seluruh cabang olahraga. Hal ini didukung oleh kedekatannya dengan generasi muda di Kota Solok. 

Terjun ke dunia politik, menurut Hendra adalah untuk menancapkan peran lebih dalam ke masyarakat. Menurutnya, pengabdian ke Kota Solok akan berkesan, saat bisa membantu masyarakat secara maksimal. Lembaga DPRD menurutnya memberi ruang lebih lebar dalam pengabdian ke masyarakat. Sebab, dengan berjuang di DPRD, masyarakat bisa dibantu dengan sistem dan program yang pro rakyat.

“Sebelum di DPRD, saya di samping menjadi guru, juga berdagang Sembako di Pasaraya Solok. Di samping aktif di olahraga dan organisasi pemuda. Kalau dulu, membantu masyarakat pakai uang pribadi, setelah di DPRD, saya menyadari bisa membantu masyarakat lebih banyak dan lebih luas cakupannya. Yakni dengan cara dan sistem. Alhamdulillah, efeknya jauh lebih terasa dan dirasakan oleh banyak orang, dibandingkan dengan membantu secara pribadi,” ungkapnya.

Bersama Walikota Solok, Zul Elfian Dt Tianso.

Pileg 2019, menjadi Pileg yang paling berkesan bagi Hendra. Meski menjabat Ketua PBB Kota Solok, Hendra justru memilih nomor urut terakhir di Dapil Tanjung Harapan (nomor urut 9). Namun, hasilnya di luar dugaan. Hendra meraup sebanyak 827 suara dari total 1.121 suara PBB di Dapil Tanjung Harapan. Artinya perolehan suaranya selalu meningkat tajam dari tiga Pileg. Yakni 326 di Pileg 2009, 550 di Pileg 2014, dan 827 suara di Pileg 17 April 2019. Selain itu, pada Pilkada 2015 lalu, PBB merupakan salah satu partai pengusung Zul Elfian-Reinier, Walikota dan Wakil Walikota Solok saat ini.

Lalu, apa kiat sukses Hendra Saputra sehingga bisa sukses tiga periode beruntun menjadi Anggota DPRD Kota Solok? Serta mengulang pencapaian kakeknya, H. Yahya Amin yang juga tiga periode di DPRD Kota Solok. Bahkan di Pileg 2019 ini, PBB juga sukses mengantarkan putra H. Yahya Amin, yang merupakan pendiri Kota Solok, Wazadly terpilih menjadi Anggota DPRD Kota Solok dari Dapil Lubuk Sikarah.

Bersama mantan Walikota Solok, Irzal Ilyas Dt Lawik Basa.

“Bagi saya, kunci utamanya adalah menganggap diri sebagai rakyat biasa. Sehingga, membuat masyarakat memiliki pandangan positif. Saya bangga dipandang sebagai orang biasa, orang olahraga, dan bisa bergaul dengan siapa saja. Saya tidak pernah dengarkan apapun isu tentang saya. Saya hanya fokus memaksimalkan peran dan tugas saya di masyarakat sebagai anggota dewan. Selebihnya, biarkan masyarakat yang menilai,” ungkapnya. (***)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply