Yutris Can: Saya Sama Sekali Tidak Istimewa!

Yutris Can: Saya Sama Sekali Tidak Istimewa!

Profil Legislator Terpilih, Yutris Can
Sejarah Tiga Masa Pimpin DPRD

Panasnya persaingan politik di Kota Solok, telah memakan banyak “korban”. Banyak politikus yang melejit, berbanding lurus dengan politikus yang mengendur. Komposisi DPRD Kota Solok juga mengalami perubahan sangat signifikan. Hanya segelintir saja yang bisa menjadi Anggota DPRD untuk dua periode, apalagi untuk tiga periode. Dari segelintir itu, Yutris Can, terbilang sangat sukses. Tidak hanya sebagai Anggota DPRD, tapi sebagai Ketua DPRD Kota Solok, untuk yang akan ketiga kali secara beruntun. Bagaimana kisahnya?

Laporan RIJAL ISLAMY, Solok

Yutris Can. Menjadi nama yang sangat familiar di Kota Solok. Dialah Ketua DPRD Kota Solok yang dinilai sukses memberi warna di kontestasi perpolitikan Kota Solok.

Karirnya di bidang politik dimulai saat dirinya menjadi kader muda di Partai Golkar Kota Solok. Di bidang organisasi, nama Boris (panggilan Yutris Can) dikenal sebagai tokoh muda “pergerakan” saat dirinya didapuk sebagai Ketua Pemuda Pancasila Kota Solok. Modal kematangan di organisasi, membuatnya langsung dikenal luas di Kota Solok, saat menjadi calon legislatif (caleg) pada pemilihan legislatif (Pileg) tahun 2009. 

Karir politik Yutris Can melejit di saat umurnya masih muda, 40 tahun. Tepatnya pada pemilihan legislatif (Pileg) Kota Solok 9 April 2009. Saat itu, sistem Pemilu dengan suara terbanyak pertama kali dipakai, Yutris Can terpilih! Dalam prosesnya, pria yang juga sosok petani sukses tersebut, “didaulat” menjadi Ketua DPRD Kota Solok periode 2009-2014.

Lima tahun memimpin DPRD Kota Solok, dirinya membawa perubahan baru terhadap wajah DPRD. Di masa itu, stigma negatif anggota dewan yang dikatakan hanya duduk dan diam, berhasil diubah menjadi “sangat aktif”. Terutama dalam menyikapi kebijakan-kebijakan pemerintah dan masalah-masalah yang terjadi di masyarakat. 

Berbekal kesuksesan memimpin DPRD Kota Solok selama lima tahun, Boris kembali mendapatkan kepercayaan masyarakat. Pada Pileg 2014, Yutris Can kembali terpilih, dengan perolehan suara 852. Politisi Partai Golkar kelahiran 24 Mei 1969 itu, kembali didaulat menjadi Ketua DPRD Kota Solok periode 2014-2019.

Menjadi Ketua DPRD dua periode, membuat Yutris Can merasakan tiga kepemimpinan Walikota. Yakni Syamsu Rahim-Irzal Ilyas (2005-2010), Irzal Ilyas-Zul Elfian (2010-2015) dan Zul Elfian-Reinier (2016-2021). Di tiga kepemimpinan walikota itu, Yutris Can mengaku mendapat banyak hikmah. Terutama dalam hal tanggung jawab sebagai wakil rakyat dan bagaimana sebuah proses kepemimpinan, mempengaruhi nasib masyarakat.

“DPRD adalah perwujudan dari keikutsertaan masyarakat di pemerintahan. Sehingga, seluruh anggota DPRD, memiliki tanggung jawab terhadap nasib masyarakat yang telah memilihnya. Perlu diingat, kepercayaan tersebut akan dipertanggungjawabkan. Tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat kelak. Karena itu, kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk memperjuangkan masyarakat. Sesuai dengan sumpah dan janji saat dilantik menjadi wakil rakyat,” ungkapnya.

Menjadi pembina grup Syiar Dakwah “Bareh Solok” di tingkat nasional.

Mengenai “trik sukses”-nya memimpin DPRD Kota Solok, Yutris Can mengaku dirinya selalu menanamkan kebersamaan di DPRD. Menurutnya, kepemimpinan di DPRD bersifat kolektif kolegial, sehingga setiap keputusan dan kebijakan yang akan diambil harus diputuskan secara bersama-sama. Yutris Can juga selalu mewanti-wanti agar seluruh anggota DPRD untuk menampilkan sikap dan pandangan politik yang sehat. Sehingga, lembaga legislatif dan seluruh anggota DPRD bisa memperjuangkan masyarakat dengan optimal.

“Kebersamaan adalah modal utama membangun daerah. Masyarakat akan menilai seluruh anggota DPRD, terhadap apa yang dilakukannya ke masyarakat. Karena sejatinya, keberadaan anggota dewan adalah untuk memperjuangkan nasib masyarakat. Sebagai perwakilan partai dan masyarakat, fungsi DPRD adalah untuk membantu masyarakat di ranah perwakilan. Setelah menjadi wakil rakyat, seluruh anggota DPRD adalah perwakilan seluruh golongan masyarakat. Seluruhnya harus memperjuangkan nasib seluruh masyarakat Kota Solok,” ujarnya. 

Lebih lanjut, Boris menyatakan anggota dewan, duduk karena dipilih masyarakat. Karena itu, menurutnya, seluruh anggota dewan harus balik ke masyarakat. Serta harus berani menerima keluhan masyarakat, walau sepahit apapun.

“Harapan tinggi ditumpangkan ke lembaga DPRD dan pemerintah. Karena DPRD memiliki power untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat, yakni dengan menjembatani kebijakan pemerintah, maka tanggung jawab itu harus dituntaskan. Sehingga, seluruh kebijakan yang dikeluarkan DPRD dan pemerintah, bisa pro terhadap nasib rakyat,” ungkapnya.

Turun langsung ke lapangan.

Yutris Can juga menjelaskan bahwa masyarakat harus sadar, bahwa Kota Solok tidak memiliki sumber daya alam (SDA) yang mampu mencukupi kebutuhan daerah. Dengan dana-dana dari pusat dan provinsi, Pemko bisa menyiasati untuk lebih menggenjot pembangunan.

“Kota Solok tidak memiliki SDA yang bisa menanggung pembiayaan. Namun, Kota Solok memiliki keuntungan karena lokasinya yang sangat strategis. Kita harapkan masyarakat untuk bijak dan berfikiran positif. Kritikan juga perlu untuk introspeksi dan menambah semangat. DPRD dan pemerintah memiliki peran yang sangat besar dalam perjalanan pembangunan. Kita memiliki komitmen dan niat yang sama membangun daerah. Sinergitas ini menjadikan setiap permasalahan yang terjadi di masyarakat dapat diatasi dengan cepat, tepat dan memberi solusi terbaik,” ungkapnya. 

Pada Pileg 17 April 2019 lalu, Yutris Can menjadi “sasaran tembak”. Berbagai isu dan selentingan menyudutkan namanya. Bahkan dari berbagai isu liar yang dikembangkan pihak yang kontra, Yutris Can diisukan tidak akan terpilih lagi untuk periode 2019-2024. Namun, pria supel tersebut kembali membuktikan kematangannya dalam berpolitik. Yutris Can kembali terpilih untuk ketiga kalinya secara beruntun.

Lebih luar biasa, Yutris Can hampir dipastikan akan menjadi Ketua DPRD Kota Solok untuk periode ketiga kali secara beruntun. Sebuah sejarah yang belum pernah ditorehkan para Ketua DPRD Kota Solok sebelumnya.

Pembina olahraga Tarung Derajat di Kota Solok.

Meski telah menorehkan sejarah, Yutris Can, mengaku hal itu bukanlah sesuatu yang istimewa secara personal. Kerja keras dari seluruh pengurus, kader dan simpatisan menurutnya yang harus diapresiasi secara istimewa. Yutris Can juga mengingatkan bahwa sistem dan mekanisme demokrasi lah yang membuat dirinya terpilih menjadi Ketua DPRD Kota Solok tiga periode secara berturut-turut.

“Saya sama sekali tidak istimewa. Sistem dan mekanisme demokrasi lah yang Insyaallah menjadikan Ketua DPRD Kota Solok yang ketiga kali beruntun. Kerja keras pengurus, kader dan simpatisan lah yang harus diapresiasi istimewa,” tegasnya.

Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Solok.

Selain itu, Yutris Can juga menegaskan suksesnya Partai Golkar menjadi pemenang Pileg di Kota Solok kali ini, diwarnai dengan menurunnya jumlah raihan kursi DPRD Kota Solok. Yakni empat kursi pada periode 2009-2014 dan 2014-2019, menjadi tiga kursi di periode 2014-2019. Meski begitu, Kota Solok menjadi satu dari lima daerah yang Partai Golkar tetap bisa menang Pileg. Sebelumnya, pada 2014-2019, sebanyak 15 DPRD kabupaten/kota dan DPRD Provinsi dipimpin partai berlambang beringin tersebut.

“Kita bersyukur bisa tetap menjadi pemenang di Kota Solok. Namun, kita harus akui, perolehan kita menurun dari periode sebelumnya. Ini tentu menjadi bahan evaluasi bagi kita ke depannya,” ujarnya. (***)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply